Pertajam Strategi Pasar dan Negosiasi Internasional lewat Narasi Tata Kelola Berkelanjutan: Lokakarya Penyusunan Modul Diplomasi Sawit Indonesia

Penulis :
Refina A. Puspita

Editor:
Tsabita Prameswari
- Berita
- Juni 6, 2026
Kota Samarinda – Menyusul lokakarya di Jakarta pada awal Mei lalu, sekitar 25 perwakilan kementerian, lembaga, dan organisasi sipil berkumpul secara hybrid di Kota Samarinda, Kalimantan Timur pada 21–22 Mei 2026. Lokakarya intensif ini diselenggarakan untuk membahas draf modul yang akan menjadi bagian dari program Peningkatan Kapasitas Negosiasi dan Diplomasi Luar Negeri terkait Praktik Minyak Sawit Berkelanjutan. Program tersebut dijalankan oleh Center for World Trade Studies Universitas Gadjah Mada (CWTS UGM) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan dukungan dari UNDP Indonesia dan Forest, Agriculture, and Sustainable Trade (FAST) Project.
Dr. Maharani Hapsari selaku Sekretaris Eksekutif CWTS UGM membuka forum dengan menegaskan pentingnya konsolidasi visi antara petani swadaya, BUMN, dan pelaku usaha dalam tata kelola produksi sawit nasional. Beliau menggarisbawahi bahwa program peningkatan kapasitas ini mengadopsi pendekatan two-level game, di mana tata kelola komoditas domestik yang terintegrasi menjadi modal utama dalam memenangkan manuver perdagangan di pasar global.

Dalam pembahasan modul yang dipaparkan oleh Malik Cahyadin, Ph.D. dan Dr. Duddy Roesmara Donna, forum mendalami instrumen market intelligence. Pembahasannya mencakup pemetaan literatur mengenai lanskap sawit Indonesia, analisis pasar global untuk komoditas sawit, serta pembahasan strategi negosiasi. Data terkini menunjukkan fluktuasi pertumbuhan volume ekspor serta tingginya dominasi pasar tradisional seperti India dan China untuk produk CPO, kontras dengan pasar kawasan Eropa yang menyerap volume lebih kecil, namun menawarkan harga premium bagi produk hilir bernilai tambah tinggi yang bersertifikat berkelanjutan. Karakteristik pasar yang variatif ini menuntut penyusunan matriks hambatan perdagangan yang spesifik per kawasan, agar strategi diplomasi berjalan tepat sasaran.

Lebih lanjut, dalam konteks mengenai market intelligence, peningkatan kapasitas ini berupaya membahasakan dinamika perdagangan global yang kompleks dengan pendekatan yang komunikatif serta visualisasi data statistik yang praktikal. Pendekatan komunikatif dan praktikal ini ditujukan untuk memastikan para calon negosiator dapat membaca tren pasar dunia, memetakan posisi tawar negara, sekaligus mengidentifikasi peluang di negara tujuan ekspor secara akurat.
Kelompok petani swadaya Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) dan Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) juga turut hadir dalam menyumbang masukan mengenai program ini untuk memastikan materi pelatihan sesuai dengan pengalaman realitas sehari-hari, terutama dari petani swadaya. Perwakilan dari kedua lembaga tersebut menyoroti kendala lapangan, seperti kesulitan pengurusan Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), keterbatasan anggaran daerah, hingga distribusi pendanaan ISPO bagi petani rakyat yang masih terkendala. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri juga bahwa langkah Indonesia menuju sawit berkelanjutan patut untuk diapresiasi, sebagaimana disampaikan mengenai capaian positif dari 12 koperasi swadaya binaan SPKS yang berhasil melakukan sertifikasi ganda, baik ISPO maupun RSPO, serta upaya aktif mereka dalam menjaga hutan.
Melalui lokakarya di Samarinda ini, forum berhasil menjaring masukan konstruktif dari berbagai pemangku kepentingan guna menyempurnakan program Peningkatan Kapasitas Negosiasi dan Diplomasi Luar Negeri terkait Praktik Minyak Sawit Berkelanjutan. Program ini dirancang untuk membekali para calon negosiator agar menjadi figur yang lebih tangguh, taktis, dan kompetitif. Sejalan dengan hal tersebut, CWTS UGM berkomitmen terus untuk menjaga nilai inklusivitas demi mewujudkan daya saing Indonesia yang unggul serta memperkuat posisi strategisnya di lanskap global.
Berita Terbaru
Artikel Terbaru