Mendorong Ekowisata Berkelanjutan di Yogyakarta Melalui Exploring by Cycling (ELING)

Mendorong Ekowisata Berkelanjutan di Yogyakarta Melalui Exploring by Cycling (ELING)

Penulis:

Fahed Syauqi, S.IP

Research Fellow, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Editor:

Lukas Andri Surya Singarimbun

Website Manager, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Ilustrator:

Octaviani Widya Pradipta

Staff Graphic Designer, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Berdasarkan penelitian dari Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI diketahui bahwa sektor pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini memiliki tiga masalah utama, yakni kurangnya keterlibatan masyarakat lokal, hanya berfokus pada pendapatan wilayah tanpa memikirkan segi keberlanjutan lingkungan, dan kurangnya inovasi terkait konsep wisata berkelanjutan. Untuk menjawab persoalan tersebut, ekowisata, sebuah konsep wisata yang menekankan pada nilai keberlanjutan lingkungan dalam memajukan sektor pariwisata, dapat menjadi solusi. 

Data dari Organisasi Pariwisata Dunia atau World Tourism Organization (UNWTO) mengungkapkan bahwa sektor pariwisata mengalami peningkatan turis dari 25 juta turis internasional pada tahun 1950 menjadi 1,442 miliar di tahun 2018. Mobilisasi turis secara masif akan menjadi tantangan terkait penerapan ekowisata yang berkelanjutan. Konsep wisata secara konvensional memiliki masalah yang begitu pelik, dimana kedatangan wisatawan membawa sejumlah masalah seperti penumpukan limbah dan polusi udara yang membahayakan keanekaragaman hayati. Dalam konteks Yogyakarta, ekowisata belum dapat diimplementasikan dengan maksimal. Wilayah Yogyakarta seringkali mengalami peningkatan pencemaran udara saat musim libur tiba karena meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang datang ke Yogyakarta. Hal ini tercermin dari meningkatnya karbon monoksida (CO) mencapai 27.000 mikrogram pada 31 Desember 2019.

Sumberharjo, sebuah desa di kecamatan Prambanan, Yogyakarta memiliki panorama alam sangat potensial. Lebih jauh, Sumberharjo juga telah memiliki destinasi wisata berkelanjutan yang strategis, seperti Omah Magot Jogja, Sawah Organik Gamparan, Sumber Budaya, Pusat Pengolahan Sampah (Puspa), Kerajinan Kulit Kenandy dan Bukit Teletubies. Dalam perkembangannya, Sumberharjo mulai dikenal oleh masyarakat luas sebagai desa wisata yang mempesona. Namun, menurut Andy Purnawan, Koordinator dan Konsultan Pengembangan Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UKM) Kapanewon Prambanan ketika dihubungi, hal tersebut menimbulkan masalah baru terkait pengelolaan transportasi wisatawan yang tidak stabil sehingga aksesnya pun terhambat. Oleh karenanya, Desa Sumberharjo berinisiatif untuk menghadirkan sebuah konsep ekowisata berkelanjutan yang disebut Exploring by Cycling atau ELING sehingga diharapkan pemberdayaan dapat berjalan berkelindan dengan konservasi lingkungan. 

Dalam usaha memperluas konsep ekowisata ini, Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Sumber Sumilir sebagai mitra dalam menginisiasi ekowisata berkelanjutan melalui konsep ELING untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Inisiasi ini sejalan dengan argumentasi yang dikemukakan oleh Urry dan Larsen dalam buku “Ecotourism Transitioning to the 22nd Centurybahwa nilai komunitas dan kesadaran lingkungan memiliki unsur yang lebih bernilai dibandingkan konsumerisme dan mobilitas wisatawan yang tidak dibatasi.  

ELING merupakan sebuah inovasi konsep ekowisata berkelanjutan yang dapat memberikan pemahaman secara komprehensif terkait filosofi kehidupan manusia terhadap pemberdayaan dan konservasi lingkungan. ELING berpotensi menjadi daya tarik bagi para wisatawan karena memungkinkan mengenal setiap potensi di wilayah Yogyakarta dengan lebih baik. Salah satu kebijakan yang sedang dikembangkan untuk mendukung inovasi ini adalah pembuatan rute-rute bersepeda yang dirancang untuk mengenalkan berbagai lokasi pariwisata di Yogyakarta. ELING, dalam praktiknya, tidak hanya berusaha mereduksi polusi namun juga memperkenalkan potensi ekowisata dengan kegiatan bersepeda di Yogyakarta yang menawarkan berbagai potensi wisata baik pesona alam maupun kebudayaan.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta mengungkapkan bahwa kunjungan wisata di Kota Yogyakarta berangsur pulih pasca pandemi, termasuk pada saat low-season. Oleh karena itu, Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta menginisiasi untuk meningkatkan kembali wisata bersepeda untuk menekan laju perubahan iklim. Namun, minat wisata bersepeda masih berjalan secara parsial. Oleh karenanya, setiap pihak harus dapat memiliki peran dalam pengembangan ELING agar terciptanya ekowisata yang berkelanjutan. Penyusunan pemetaan dan proyeksi pengembangan destinasi wisata berkelanjutan secara komprehensif melalui kerja sama yang melibatkan pihak pemerintah, universitas, dan sektor industri menjadi sangat dibutuhkan. Peningkatan kolaborasi akan mempercepat desa sebagai destinasi utama pariwisata berkelanjutan di masa depan.