Arsip:

Berita

Mengambil Langkah Nyata, PSPD UGM Lakukan Bersih Pantai dan Konservasi Mangrove

Mengambil Langkah Nyata, PSPD UGM Lakukan Bersih Pantai dan Konservasi Mangrove

Penulis:

Anisa Febriyanti, S.Ikom

Intern Kesekretariatan, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Editor:

Christina Vania Winona, S.I.P

Kepala Divisi Kesekretariatan, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Editor:

Muna Rihadatul Aisi, S.Sos.

Kepala Divisi Diseminasi, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Sabtu (4/11), PSPD UGM bersama Suryakanta Institute dan Circular School Program Partnership (CSPP) menyelenggarakan kegiatan Rantai Komang Trip (Reresik Pantai & Konservasi Mangrove) dengan menggandeng komunitas lingkungan Yogyakarta, Garduaction (Garbage Care and Education). Dilaksanakan di pesisir Pantai Parangkusumo, Yogyakarta, kegiatan ini diikuti lebih dari 50 peserta yang berasal dari berbagai daerah.

Rantai Komang Trip dibuka dengan sambutan dari Bapak Hindratna selaku tuan rumah Garduaction. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada seluruh peserta Rantai Komang Trip. Bapak Hindratna kemudian menjelaskan mengenai perjalanan Garduaction dalam mengelola sampah di pesisir pantai Parangkusumo. Saat ini, Garduaction telah membuat banyak barang dari sampah mulai dari batako ringan, paving conblock, mainan anak-anak, pot bunga, hingga eco enzyme. Beliau juga menyatakan bahwa merasa bangga atas kunjungan peserta Rantai Komang Trip.

Selanjutnya, Mario Aden Bayu sebagai ketua pelaksana Circular Economy Forum (CEF) 2023 menjelaskan secara singkat tentang teknis acara Rantai Komang Trip termasuk luaran yang dihasilkan dari kegiatan ini. Nantinya, luaran dari kegiatan ini  akan menjadi salah satu pokok pembahasan yang akan disampaikan pada International Workshop yang merupakan rangkaian kegiatan CEF 2023 selanjutnya.

Dr. Riza N. Arfani, Kepala PSPD UGM melanjutkan sambutan dengan mengucapkan terima kasih kepada Garduaction karena telah menerima peserta Rantai Komang Trip dengan hangat. Dr. Riza menjelaskan bahwa dengan acara ini, peserta bisa belajar bersama mengenai pengolahan sampah di pesisir sekaligus melihat langsung produk-produk olahan sampah yang dapat disaksikan di sekitar Garduaction. Beliau mengharapkan antusiasme peserta mengikuti kegiatan ini terus berlanjut di rangkaian kegiatan CEF lain hingga Desember mendatang. 

Sambutan ditutup oleh pembina dari Suryakanta Institute sekaligus pegiat lingkungan hidup, Mayjen TNI (Purn.) IGK Manila atau kerap disapa Opa Manila. Beliau menyampaikan bahwa ekonomi sirkular dan ekonomi biru adalah salah satu cara untuk menjaga lingkungan yang keadaannya sudah memprihatinkan. Manusia menjadi pelaku utama dari kondisi ini dengan merusak lingkungan baik dari hutan, laut, sampai udara. Opa Manila berharap dengan adanya kegiatan ini, bisa mendorong masyarakat untuk ikut menyuarakan peduli lingkungan.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembentukan beberapa kelompok yang saling bekerja sama untuk mengumpulkan sampah di sekitar pesisir Pantai Parangkusumo. Tidak hanya itu, di saat yang bersamaan peserta juga melakukan “nyangkruk” atau berdialog santai dengan warga setempat untuk mengetahui lebih dalam kehidupan warga pesisir. Usai selesai melakukan dua kegiatan tersebut, peserta kemudian memilah sampah berdasarkan kategori yang telah ditentukan. Sampah yang dipilah akan diolah oleh tim Garduaction menjadi barang yang memiliki nilai guna.

Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman mangrove pandan laut di area sekitar Garduaction. Setelah itu, kegiatan ditutup dengan api unggun sambil menikmati suasana pantai di malam hari. Di tengah-tengah kehangatan suasana tersebut, para peserta berdiskusi ringan untuk merefleksikan rangkaian kegiatan Rantai Komang Trip  yang telah dilakukan. 

Kolaborasi PSPD dan Fakultas Geografi UGM Gelar Forum Dialog Komunitas (FDK) Bertajuk Pembangunan Ekonomi Biru

Kolaborasi PSPD dan Fakultas Geografi UGM Gelar Forum Dialog Komunitas (FDK) Bertajuk Pembangunan Ekonomi Biru

Penulis:

Christina Vania Winona, S.I.P

Kepala Divisi Kesekretariatan, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Pusat Studi Perdagangan Dunia UGM (PSPD UGM) bersama Fakultas Geografi UGM menyelenggarakan Forum Dialog Komunitas (FDK) pada Sabtu (23/9). Kegiatan yang sekaligus mengawali peluncuran Circular Economy Forum (CEF) 2023 turut menghadirkan para praktisi komunitas lokal untuk berbagi pengalaman dan ide terkait isu ekonomi biru. Forum ini digelar untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendukung peran komunitas lokal dalam pembangunan ekonomi biru pada tingkat nasional dan global. 

FDK dibuka oleh Dekan Fakultas Geografi UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc. dan Kepala PSPD UGM, Dr. Riza Noer Arfani. Dr. Danang menekankan bahwa Indonesia memiliki mega biodiversity yang dapat menghasilkan berbagai produk tidak hanya produk mentah, namun bisa berupa produk kosmetik atau farmasi. “Potensi laut Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Melainkan yang harus menjadi aktor utama adalah masyarakat lokal.” Dilanjutkan oleh Dr. Riza, FDK diharapkan dapat menghasilkan kolaborasi berkelanjutan dalam level produksi pengetahuan dan rancangan rekomendasi kebijakan mengenai ekonomi biru. 

Forum dilanjutkan oleh pemaparan Sefrianto Saleda atau yang kerap dipanggil Kak Seiya dari Konservasi Indonesia, Papua Barat. Kak Seiya menjelaskan bahwa Konservasi Indonesia mendorong ekonomi biru melalui pendekatan proteksi-produksi. Pendekatan ini diterapkan dalam pariwisata berkelanjutan, perikanan berkelanjutan, dan pertanian/perkebunan berkelanjutan. Upaya untuk mendukung pendekatan ini dilakukan dalam bentuk sosialisasi, pemetaan potensi wisata, dan penguatan kapasitas pengelola wisata.

Menyambung Kak Seiya, Dhimas Driessen dari Tani Remen Budaya (TRB) Creative, Jawa Tengah menyampaikan bahwa pertanian sangat erat hubungannya dengan ekonomi sirkular. Program yang pernah diinisiasi oleh TRB Creative adalah Rumah Kompos, Pertanian Berkelanjutan, Budaya untuk Pertanian, Produk Sehat, dan berbagai program lainnya yang sifatnya saling berkelanjutan. Seluruh program dilaksanakan mulai dari desa, hingga kabupaten atau kota. 

Dilanjutkan oleh Faizal Naf’an (Cak Aan) dari Rukun Nelayan Weru, Jawa Timur, menjelaskan bahwa saat ini di Lamongan, Jawa Timur terdapat beberapa industri yang dibangun di dekat pantai. Akibatnya, wilayah tangkapan nelayan menjadi terganggu. Tidak jarang nelayan juga merasa khawatir akan adanya kecelakaan laut karena ramainya lalu lintas kapal di area tersebut. Maka dari itu, dibutuhkan penyesuaian aktivitas antara industri dengan nelayan lokal dan penyediaan akomodasi yang mendukung keselamatan aktivitas di laut. 

Pemaparan dilanjutkan Josh Handani, Ketua Konsorsium Ekonomi Sirkular Indonesia (KESI), Bali & D.I. Yogyakarta, yang menyampaikan dedikasinya pada ekonomi sirkular berawal dari kegiatan membersihkan lingkungan dan sungai. Kegiatan ini menumbuhkan urgensi untuk mengurangi sampah dengan memulai membuat produk berbahan natural yang digunakan sendiri. Kini, beliau telah sukses memasarkan produk sirkular di pasar internasional. 

Forum ditutup dengan penyampaian tanggapan dari akademisi Fakultas Geografi UGM, Dr. Agr. Evita Hanie Pangaribowo, S.E., Midec, menjelaskan bahwa ekonomi biru yang didominasi oleh bisnis skala kecil memiliki berbagai macam hambatan yang berbeda, tergantung wilayah bisnis tersebut berada. Secara garis besar hambatan berasal dari perubahan iklim dan bencana alam. Hambatan lainnya berupa harga jual yang akan memengaruhi kualitas kesejahteraan pelaku bisnis skala kecil. Solusinya adalah melalui pemberdayaan dan pelatihan manajemen risiko yang melibatkan pelaku bisnis skala kecil. Pemerintah juga perlu hadir, salah satunya dengan memberikan asuransi kepada pelaku bisnis skala kecil terkait dampak dari hambatan perubahan iklim dan bencana alam.

Diskusi PSPD UGM dengan Tim Peneliti FISIP UNDIP Mengenai Penerapan ATIGA di Indonesia dan ASEAN

Diskusi PSPD UGM dengan Tim Peneliti FISIP UNDIP Mengenai Penerapan ATIGA di Indonesia dan ASEAN

Penulis:

Christina Vania Winona, S.I.Ph

Kepala Divisi Kesekretariatan, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM menerima kunjungan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (FISIP UNDIP) pada Jumat, 11 Agustus 2023. Kunjungan dilakukan oleh Prof. Dr. Drs. Hardi Warsono, M.T. dan 6 peneliti untuk memperoleh pemahaman terkait pemberlakuan ATIGA (ASEAN Trade in Goods Agreement). Bergabung melalui media daring, Kepala PSPD UGM, Dr. Riza Noer Arfani menyambut baik kehadiran dari perwakilan yang hadir. 

Diskusi membahas berbagai isu dan dampak penerapan ATIGA terhadap perdagangan dan upaya Indonesia untuk mendukung ATIGA, baik di dalam negeri maupun lingkup ASEAN. Di akhir sesi diskusi, perwakilan FISIP UNDIP menyampaikan ketertarikan untuk menjalin kerja sama dengan PSPD UGM baik dalam hal produksi pengetahuan maupun kegiatan lainnya, salah satunya mengenai isu ekonomi sirkular. 

 

Sarasehan Demokrasi Ekonomi Indonesia ”Inspirasi dari Laut: Cerita Kehidupan Komunitas dan Peluang Ekonomi Biru untuk Masyarakat Lokal”

Sarasehan Demokrasi Ekonomi Indonesia ”Inspirasi dari Laut: Cerita Kehidupan Komunitas dan Peluang Ekonomi Biru untuk Masyarakat Lokal”

Penulis:

Christina Vania Winona, S.I.Ph

Kepala Divisi Kesekretariatan, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM menyelenggarakan Kelas Komunitas Berdaya sekaligus Sarasehan Demokrasi Ekonomi Indonesia (SARDEIN) volume VI dengan mengangkat tema ‘Inspirasi dari Laut: Cerita Kehidupan Komunitas dan Peluang Ekonomi Biru untuk Masyarakat Lokal’ pada Jumat (28/7). Forum digelar secara daring selama 90 menit dan diikuti oleh puluhan komunitas yang bergerak di pelestarian pesisir dan ekonomi kreatif.

Berkolaborasi dengan Suryakanta Institute dan ECCO Foundation, PSPD UGM menghadirkan panelis dari kalangan komunitas pesisir Lombok dan Cilacap. Forum dibuka dengan sambutan dari Mario Aden Bayu Valendo, S.I.P selaku Ketua Penyelenggara CEF 2023 yang memberikan pengantar pengenalan terkait CEF 2023 rangkaian acaranya. Ekonomi biru akan diangkat sebagai fokus tema Circular Economy Forum (CEF) 2023 yang merupakan agenda tahunan PSPD UGM yang kedua. Melalui CEF, saat ini telah terbentuk beberapa kajian seputar ekonomi sirkular yang akan digunakan untuk rekomendasi kebijakan. Agenda tersebut akan dilakukan secara keberlanjutkan hingga tercipta kebijakan publik sekaligus implementasinya mampu menjamin keseimbangan antara ekonomi dan ekologi.

Melalui CEF 2023, komunitas diharapkan mampu saling tukar ilmu pengetahuan dalam merawat gerakannya. Rangkaian CEF 2023 yang dilaksanakan sejak bulan Juli sampai dengan Desember 2023 juga dimaksudkan sebagai bentuk fasilitasi kepentingan komunitas kepada pemangku kebijakan. Aktivitas yang dilakukan meliputi Kelas Komunitas Berdaya, Forum Dialog Komunitas, kampanye pelestarian alam, riset, konferensi pembangunan nasional, dan konferensi internasional untuk mengkaji kebijakan publik.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber pertama, yaitu Iwan Suyadi, S.E., M.Pd, Wakil Ketua Turtle Conservation Community di Lombok yang telah berdiri sejak 2018. Gerakan komunitas ini sempat menghadapi tantangan dari gempa bumi Lombok tetapi upaya pelestarian alam melalui konservasi penyu masih tetap berlanjut hingga saat ini. Gerakan ini memiliki misi penyelamatan penyu yang dilakukan dengan patroli menyisir pesisir Lombok. Hingga saat ini, TCC telah melepas sebanyak 27.715 ekor penyu kembali ke habitatnya. Selain preservasi penyu, TCC juga merehabilitasi karang yang berdampak baik dari segi lingkungan dan pariwisata.  Namun, di sisi lain, TCC juga menemukan beberapa tantangan, di antaranya adalah jumlah nelayan terlampau banyak jika dibandingkan dengan ketersediaan sumber pendapatan dari laut dan oknum-oknum yang masih menjual telur penyu.

Narasumber kedua adalah Bayu Nur Aji yang membina komunitas masyarakat Indonesian Ecotourism Community di Cilacap, Jawa Tengah.  Indonesia Ecotourism Community berada di pesisir Cilacap, tepatnya Kecamatan Kampung Laut yang dulu disebut Segoro Anakan, yang saat ini lautannya perlahan-lahan menghilang. Fokus pendampingan Indonesian Ecotourism Community adalah pergantian profesi pada masyarakatnya melalui cara: (1) pemanfaatan lahan timbun untuk pertanian; (2) mengakses bantuan dari pemerintah; (3) pengembangan pariwisata dengan produksi olahan laut. Selama proses pendampingan, terdapat tantangan besar, diantaranya problematika kebijakan publik karena lokasinya yang bersinggungan langsung dengan Pulau Alcatraz-nya Indonesia. Selain itu, idealisme masyarakat Kampung Laut Cilacap untuk bertahan hidup masih terasa dengan kondisi mereka yang belum sepenuhnya membuka diri, sehingga pendampingan harus menggunakan trik tertentu, misalnya tidak menjanjikan apapun terhadap masyarakat Kampung Laut Cilacap.

Narasumber ketiga adalah Prof. Dr. Purwo Santoso, MA. Beliau menyampaikan jika sekalipun blue economy tampak utopis, konsep ini juga realistis. Ekonomi biru dapat disamakan konsepnya dengan ekonomi hijau, hanya fokus pembangunannya ada di laut. Dalam konsep ini, beliau menyampaikan bahwa terdapat dilema di antara ekonomi dan ekologi karena ekonomi membuka peluang tetapi juga meningkatkan ancaman krisis lingkungan. Oleh karenanya, keadilan ekonomi seharusnya mulai dibangun dan dapat dimulai dari desain koperasi dari hulu ke hilir yang selaras dengan modifikasi pada model bisnis sehingga narasinya adalah menjaga keadilan.

Acara dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab dengan peserta dan kemudian ditutup dengan rangkuman sesi narasumber.

 
 

SARDEIN: Petaka Tren Magang bagi Mahasiswa dan Tenaga Kerja

SARDEIN: Petaka Tren Magang bagi Mahasiswa dan Tenaga Kerja

Penulis:

Maria Angela Koes Sarwendah

Kepala Divisi Diseminasi, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Editor:

Lukas Andri Surya Singarimbun

Website Manager, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Pada Jumat (9/6), PSPD UGM bersama Suryakanta Institute menyelenggarakan Sarasehan Demokrasi Ekonomi Indonesia (SARDEIN) dengan tema "Magang Mahasiswa di Tengah Pusaran Rezim Ketenagakerjaan Indonesia". Diskusi daring ini mengundang Nabiyla Risfa Izzati, S.H., LL.M.(Adv), selaku Akademisi/Dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, untuk mendiskusikan fenomena magang di Indonesia dari kacamata hukum dan implikasinya terhadap kesejahteraan pekerja.

SARDEIN dipantik dengan penyampaian permasalahan kondisi regulasi magang mahasiswa Indonesia. Berangkat dari Peraturan Kementerian Ketenagakerjaan No. 6 Tahun 2020 (Permenaker 6/2020) tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri, Nabiyla menggarisbawahi keterbatasan ruang lingkup regulasi pelaksana UU Ketenagakerjaan tersebut dalam melindungi mahasiswa dari risiko eksploitasi. Permenaker 6/2020 yang ternyata hanya mengatur skema apprenticeship (pelatihan kerja lembaga) alih-alih internship (magang mahasiswa) membuka celah bagi beberapa perusahaan untuk memanfaatkan magang sebagai tameng politik pekerja murah. Celah demikian ada dikarenakan “apprenticeship” dan “internship” seringkali hanya diterjemahkan sebagai “magang” dalam Bahasa Indonesia sehingga terjadi pemaknaan konsep magang yang terlalu luas. Dampaknya, perusahaan berlomba-lomba membuka lowongan magang yang tidak lagi didasarkan pada motif edukasi, melainkan pada penghematan biaya tenaga kerja yang mengesampingkan hak mahasiswa.

Peningkatan jumlah lowongan magang yang pesat menjadikan magang sebagai parameter kualitas mahasiswa era kini dan norma penjamin peluang kerja setelah lulus. Selain menambah beban mahasiswa, normalisasi magang dipandang Nabiyla sebagai ancaman struktural terhadap keseimbangan jumlah tenaga kerja dengan ketersediaan lapangan kerja. Permasalahan seperti inilah yang menjadikan revisi Permenaker 6/2020 penting dilakukan untuk mengisi kekosongan perlindungan hukum Indonesia bagi mahasiswa dalam program magang. Lebih lanjut, mahasiswa juga dihimbau untuk lebih jeli dalam memilih program magang.

Diskusi disambung dengan sesi tanya-jawab dan sharing bersama peserta SARDEIN yang merasakan dampak tren magang mahasiswa terkini terhadap kesejahteraan pekerja di berbagai sektor, mulai dari jurnalistik, kesehatan, hingga pendidikan. Sejalannya tekanan yang dialami peserta SARDEIN dari beragam latar belakang ini semakin membuktikan urgensi perbaikan sistem ketenagakerjaan Indonesia saat ini. 

Saatnya UMKM #NaiKelas dengan Pengambilan Keputusan Berbasis Analisis Tren

Saatnya UMKM #NaiKelas dengan Pengambilan Keputusan Berbasis Analisis Tren

Penulis:

Mario Aden Bayu Valendo

Kepala Divisi Pembedayaan dan Kolaborasi Komunitas, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Rangkaian Bootcamp #NaiKelas: Mahir Data yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM dan Data Science Indonesia (DSI) Chapter Yogyakarta telah sampai pada pertemuan terakhir. Kelas diadakan pada Sabtu (27/5) dengan topik “Pengambilan Keputusan Bisnis Berbasis Tren Data”. Dalam pertemuan ini, hadir Salsabila Zahirah Pranida atau yang akrab disebut Ira dari DSI Chapter Yogyakarta sebagai pemateri. 

Pertemuan diawali dengan penjelasan Ira mengenai manfaat pengambilan keputusan melalui pola atau tren. Menurut Ira, analisis tren data memberikan empat manfaat krusial untuk mengambil keputusan bisnis. Pertama, meningkatkan ketepatan dalam pengambilan keputusan. Kedua, mengoptimalkan strategi pemasaran. Ketiga, memperkuat daya saing usaha. Keempat, mendorong adanya efisiensi dalam operasional usaha.

Selain itu, Ira juga menekankan tentang kerangka kerja pengambilan keputusan dengan mengintegrasikan penggunaan data. Kerangka kerja ini dapat disebut dengan APPASA (Ask, Prepare, Process, Analyze, Share, dan Act). Kerangka kerja ini membantu menyusun strategi yang terstruktur dalam proses pengambilan keputusan oleh pelaku UMKM dan komunitas masyarakat. 

Untuk mengukur ketercapaian rangkaian program, pertemuan ini diakhiri dengan uji evaluasi bagi seluruh peserta dengan menguji pemahaman peserta terkait empat materi pertemuan bootcamp. Materi tersebut meliputi: Cara memahami data digital, cara menganalisis data digital, cara menyajikan data digital, dan cara mengambil keputusan bisnis berbasis tren data. Setelah hasil uji evaluasi ini diolah, para peserta juga akan memperoleh sertifikat.

Bootcamp #NaiKelas: Visualisasi Data untuk Kemajuan Bisnis

Bootcamp #NaiKelas: Visualisasi Data untuk Kemajuan Bisnis

Penulis :

Atsil Tsabita Ismaningdyah

Media Officer Intern Divisi Pemberdayaan dan Kolaborasi Komunitas, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Editor:

Lukas Andri Surya Singarimbun

Website Manager, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Setelah mempelajari pengolahan data pada pertemuan kedua, Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM berkolaborasi dengan Data Science Indonesia (DSI) Chapter Yogyakarta mengadakan Kelas Bootcamp #NaiKelas yang ketiga pada Minggu (20/05). Berjudul “Cara Menampilkan Data dengan Kreatif”, pemateri dalam pertemuan kali ini adalah Bima Putra Pratama, seorang analytics engineer di Partipost dan juga ilmuwan data. Sebagai ilmuwan data, Bima juga berpengalaman membuka berbagai kelas pengenalan data bagi pemula melalui platform-nya, Ngulik Data.

Kelas ketiga ini diawali dengan pemaparan dari manfaat visualisasi data dan juga mengenalkan salah satu tools dari Google yakni Looker Studio untuk melakukan visualisasi data. Kemudian, peserta juga diajak mempraktikkan penggunaan Looker Studio secara langsung dan bertahap; mulai dari pengenalan fitur-fitur, penentuan bagian data yang akan ditampilkan, penentuan layout, hingga bagaimana menyajikan data dengan grafik, serta komponen-komponen pendukung lainnya.

Dalam kelas ini, Bima memandu peserta dalam langkah-langkah penyajian data. Bima berharap, para peserta dapat mengaplikasikan dengan baik Looker Studio untuk mengambil keputusan dalam pengembangan bisnis.

Bootcamp #NaiKelas: Analisis Data untuk Kemajuan Bisnis UMKM

Bootcamp #NaiKelas: Analisis Data untuk Kemajuan Bisnis UMKM

Penulis:

Lukas Andri Surya Singarimbun

Website Manager, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Sebagai kelanjutan dari rangkaian Kelas Bootcamp #NaiKelas, Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM berkolaborasi dengan Data Science Indonesia (DSI) Chapter Yogyakarta dan SiBakul Jogja mengadakan Kelas Bootcamp kedua secara hybrid pada Sabtu (13/5) di kantor PSPD UGM. Kelas ini dibawakan oleh Titan Bagus dari DSI Chapter Yogyakarta mengenai “Cara Mengolah Data Retail dan Transaksi”. 

Dalam pemaparannya, Titan menjelaskan teknik dasar untuk merapikan data untuk keperluan bisnis. Titan juga menekankan bahwa data menjadi sangat penting dalam mengetahui kondisi pasar dan menentukan strategi bisnis yang tepat dan baik untuk peningkatan keuntungan bisnis. Di samping penggunaan data untuk meningkatkan keuntungan bisnis, penggunaan data digital juga sangat krusial dalam memperbaiki internal perusahaan untuk menghindari pengambilan keputusan yang didasarkan pada asumsi. Dalam kelas ini, Titan juga memandu secara langsung para peserta untuk melakukan praktik pengolahan data dengan Google Spreadsheet

Kelas berlangsung secara interaktif dengan diskusi antara pemateri dengan peserta Kelas Bootcamp, baik dengan yang hadir melalui zoom dan yang hadir di PSPD UGM. 

Bootcamp #NaiKelas: Mendorong Pengembangan UMKM berbasis Data Digital

Bootcamp #NaiKelas: Mendorong Pengembangan UMKM berbasis Data Digital

Penulis :

Adelia Rachma Indriaswari Susanto

Staf Divisi Pemberdayaan dan Kolaborasi Komunitas, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Editor:

Lukas Andri Surya Singarimbun

Website Manager, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Akselerasi perkembangan teknologi informasi dewasa ini memberikan peluang kepada pelaku bisnis seperti UMKM untuk memanfaatkan data digital demi kemajuan bisnis. Berangkat dari peluang tersebut, Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM mengadakan Bootcamp Mahir Data Digital pada Sabtu (6/5) dengan topik “Cara Memahami Data Retail dan Transaksi" yang diikuti oleh berbagai peserta seperti pelaku UMKM, mahasiswa, dan komunitas sosial. Kegiatan bootcamp kali ini merupakan salah satu dari rangkaian empat pelatihan untuk memberikan pemahaman awal dan penyadaran akan pentingnya peran data digital bagi para peserta. Pertemuan ini membahas berbagai jenis sumber data seperti  sistem point-of-sale (POS), media sosial, platform e-commerce, survei, dan wawancara untuk meningkatkan kegiatan bisnis. 

Pertemuan ini juga membahas dasar-dasar fitur Microsoft Excel yang dapat membantu pelaku UMKM memahami data digital dan pentingnya memastikan keamanan data. Materi disampaikan oleh mentor berpengalaman, Novendri Isra, seorang analis data di Grab Indonesia. Pertemuan pertama ini dihadiri oleh 20 peserta baik secara langsung di PSPD UGM maupun melalui  Zoom Meeting. Bootcamp ini diinisiasi melalui kerja sama PSPD UGM dengan Data Science Indonesia (DSI) Chapter Yogyakarta dan didukung oleh SiBakul Yogyakarta.

Pertemuan berikutnya akan dilaksanakan pada Sabtu, 13 Mei 2023, di Kantor PSPD UGM dan akan membahas "Cara Analisis Data dan Tabel Pivot".

Kelas Komunitas Berdaya: Sampah dalam Paradigma Ekonomi dan Lingkungan

Kelas Komunitas Berdaya: Sampah dalam Paradigma Ekonomi dan Lingkungan

Penulis :

Atsil Tsabita Ismaningdyah

Media Officer Intern Divisi Pemberdayaan dan Kolaborasi Komunitas, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Editor:

Lukas Andri Surya Singarimbun

Website Manager, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM, Konsorsium Ekonomi Sirkular Indonesia (KESI), dan Sedaya Indonesia mengadakan Kelas Komunitas Berdaya yang keempat pada Sabtu (15/4). Mengusung tema “Berkah dari Sampah untuk Lingkungan dan Ekonomi”, kelas diadakan sebagai forum diskusi pengetahuan pengelolaan sampah dan dampaknya, baik bagi lingkungan maupun ekonomi. KESI menghadirkan empat pembicara dari berbagai komunitas, yakni: Dwi Wantoro dari Sekolah Sampah Ringas Trengginas, Dra. Nike Triwahyuningsih, M.P. dari Rumah Kreativitas Jogja “d’Shafira”, Laksmi Shitaresmi dari Studio Seni Pulunggono Pulungsari, serta Ali Hidayat dari Sedaya Indonesia. Selain beberapa komunitas yang bergerak dalam isu sampah, perwakilan Perangkat Kalurahan Baturetno juga turut hadir dalam kelas kali ini.

Acara dimulai dengan sambutan Perwakilan Perangkat Kalurahan dan dilanjutkan oleh Dwi Wantoro sebagai narasumber pertama yang menjelaskan mengenai dasar praktik ekonomi sirkular. Dwi juga menekankan pentingnya dokumentasi pengalaman seseorang dalam pengelolaan sampah agar dapat melakukan evaluasi terhadap perjalanan tersebut. Laksmi Shitaresmi, seorang seniman yang juga pemerhati persoalan limbah dan sampah,  menyinggung cara pandang masyarakat umum hingga para seniman sejawatnya terhadap karya seni yang dihasilkan dari sampah. Menurutnya, selama ini hasil kerajinan dari daur ulang limbah kerap kali dianggap buruk oleh orang-orang yang awam akan isu lingkungan, berbanding terbalik dengan pegiat seni dari luar negeri yang menganggap karya-karya ini bernilai tinggi. 

Ali Hidayat menjelaskan pentingnya pengelolaan sampah di Yogyakarta sebagai kota pelajar dan pariwisata yang kegiatan ekonominya memproduksi begitu banyak limbah yang tidak diolah kembali. Sayangnya, meskipun pengelolaan limbah adalah hal yang krusial, garda terdepan dalam dinamika pengelolaan sampah di Yogyakarta justru masih di tangan para relawan dan pegiat lingkungan. Nike Triwahyuningsih lalu melanjutkan dengan berbagi pengalamannya sebagai aktivis lingkungan sekaligus pengajar. Ia menceritakan pengalaman serupa dengan pemaparan Laksmi sebelumnya mengenai cara pandang masyarakat terhadap hasil pengolahan sampah yang menjadi produk kerajinan. Nike menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dan komunitas lain untuk bersama-sama mengolah limbah sisa dengan berbagai cara.

Selain berdiskusi mengenai berbagai hambatan dan solusi potensial yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbunan sampah di masyarakat, kelas kali ini juga diisi dengan acara buka puasa bersama.