Kolaborasi PSPD dan Fakultas Geografi UGM Gelar Forum Dialog Komunitas (FDK) Bertajuk Pembangunan Ekonomi Biru

Kolaborasi PSPD dan Fakultas Geografi UGM Gelar Forum Dialog Komunitas (FDK) Bertajuk Pembangunan Ekonomi Biru

Penulis:

Christina Vania Winona, S.I.P

Kepala Divisi Kesekretariatan, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Pusat Studi Perdagangan Dunia UGM (PSPD UGM) bersama Fakultas Geografi UGM menyelenggarakan Forum Dialog Komunitas (FDK) pada Sabtu (23/9). Kegiatan yang sekaligus mengawali peluncuran Circular Economy Forum (CEF) 2023 turut menghadirkan para praktisi komunitas lokal untuk berbagi pengalaman dan ide terkait isu ekonomi biru. Forum ini digelar untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendukung peran komunitas lokal dalam pembangunan ekonomi biru pada tingkat nasional dan global. 

FDK dibuka oleh Dekan Fakultas Geografi UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc. dan Kepala PSPD UGM, Dr. Riza Noer Arfani. Dr. Danang menekankan bahwa Indonesia memiliki mega biodiversity yang dapat menghasilkan berbagai produk tidak hanya produk mentah, namun bisa berupa produk kosmetik atau farmasi. “Potensi laut Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Melainkan yang harus menjadi aktor utama adalah masyarakat lokal.” Dilanjutkan oleh Dr. Riza, FDK diharapkan dapat menghasilkan kolaborasi berkelanjutan dalam level produksi pengetahuan dan rancangan rekomendasi kebijakan mengenai ekonomi biru. 

Forum dilanjutkan oleh pemaparan Sefrianto Saleda atau yang kerap dipanggil Kak Seiya dari Konservasi Indonesia, Papua Barat. Kak Seiya menjelaskan bahwa Konservasi Indonesia mendorong ekonomi biru melalui pendekatan proteksi-produksi. Pendekatan ini diterapkan dalam pariwisata berkelanjutan, perikanan berkelanjutan, dan pertanian/perkebunan berkelanjutan. Upaya untuk mendukung pendekatan ini dilakukan dalam bentuk sosialisasi, pemetaan potensi wisata, dan penguatan kapasitas pengelola wisata.

Menyambung Kak Seiya, Dhimas Driessen dari Tani Remen Budaya (TRB) Creative, Jawa Tengah menyampaikan bahwa pertanian sangat erat hubungannya dengan ekonomi sirkular. Program yang pernah diinisiasi oleh TRB Creative adalah Rumah Kompos, Pertanian Berkelanjutan, Budaya untuk Pertanian, Produk Sehat, dan berbagai program lainnya yang sifatnya saling berkelanjutan. Seluruh program dilaksanakan mulai dari desa, hingga kabupaten atau kota. 

Dilanjutkan oleh Faizal Naf’an (Cak Aan) dari Rukun Nelayan Weru, Jawa Timur, menjelaskan bahwa saat ini di Lamongan, Jawa Timur terdapat beberapa industri yang dibangun di dekat pantai. Akibatnya, wilayah tangkapan nelayan menjadi terganggu. Tidak jarang nelayan juga merasa khawatir akan adanya kecelakaan laut karena ramainya lalu lintas kapal di area tersebut. Maka dari itu, dibutuhkan penyesuaian aktivitas antara industri dengan nelayan lokal dan penyediaan akomodasi yang mendukung keselamatan aktivitas di laut. 

Pemaparan dilanjutkan Josh Handani, Ketua Konsorsium Ekonomi Sirkular Indonesia (KESI), Bali & D.I. Yogyakarta, yang menyampaikan dedikasinya pada ekonomi sirkular berawal dari kegiatan membersihkan lingkungan dan sungai. Kegiatan ini menumbuhkan urgensi untuk mengurangi sampah dengan memulai membuat produk berbahan natural yang digunakan sendiri. Kini, beliau telah sukses memasarkan produk sirkular di pasar internasional. 

Forum ditutup dengan penyampaian tanggapan dari akademisi Fakultas Geografi UGM, Dr. Agr. Evita Hanie Pangaribowo, S.E., Midec, menjelaskan bahwa ekonomi biru yang didominasi oleh bisnis skala kecil memiliki berbagai macam hambatan yang berbeda, tergantung wilayah bisnis tersebut berada. Secara garis besar hambatan berasal dari perubahan iklim dan bencana alam. Hambatan lainnya berupa harga jual yang akan memengaruhi kualitas kesejahteraan pelaku bisnis skala kecil. Solusinya adalah melalui pemberdayaan dan pelatihan manajemen risiko yang melibatkan pelaku bisnis skala kecil. Pemerintah juga perlu hadir, salah satunya dengan memberikan asuransi kepada pelaku bisnis skala kecil terkait dampak dari hambatan perubahan iklim dan bencana alam.

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*