Lompat ke konten utama

CWTS Pusat Studi Perdagangan Dunia

Dari Kebun Hingga Hilir: Menjembatani Kebijakan dengan Realitas Lapangan untuk Sawit Berkelanjutan di Sumatera Utara

Penulis:

Tsabita Prameswari

Editor:

Refina Anjani Puspita

TEBINGTINGGI DAN SIMALUNGUN, 10–14 AGUSTUS 2026 – Membangun argumentasi yang kontekstual dalam advokasi posisi Indonesia terkait isu sawit berkelanjutan memerlukan pemahaman komprehensif hingga ke tingkat tapak. Negosiator, diplomat, maupun perwakilan Indonesia dituntut untuk menguasai dinamika rantai pasok secara utuh, mulai dari tata kelola perkebunan, pemrosesan di pabrik kelapa sawit (PKS), hingga rantai hilirisasi produk. Guna menjembatani teori diplomasi dengan realitas lapangan, pada Senin–Kamis, 10-14 Agustus 2026, Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM berkolaborasi dengan FAST Project dari UNDP Indonesia dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia melaksanakan kunjungan lapangan ke Provinsi Sumatra Utara, tepatnya di Kabupaten Tebingtinggi dan Kabupaten Simalungun, untuk memfasilitasi peserta Peningkatan Kapasitas Negosiasi Luar Negeri dan Diplomasi terkait Praktik Sawit Berkelanjutan. 

Dalam empat hari kunjungan, peserta diajak untuk mendalami dua lanskap utama pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, yakni perkebunan rakyat (smallholders) dengan peninjauan ke Koperasi Produsen Usaha Dagang (KPUD) Lestari dan perkebunan milik negara melalui kunjungan ke Kebun Rambutan milik PT Perkebunan Nusantara IV (PalmCo). Kedua aktor tersebut telah mendemonstrasikan praktik prinsip-prinsip keberlanjutan yang telah diaplikasikan dalam operasional harian di lapangan. 

 

Tidak hanya itu, rangkaian kunjungan juga dilanjutkan dengan kunjungan ke PKS Rambutan. Di sini, peserta mempelajari alur pemrosesan kelapa sawit mulai dari Tandan Buah Segar (TBS) hingga pengolahan Crude Palm Oil (CPO) dan produk turunannya, seperti Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO), olein, hingga stearin. PT Perkebunan Nusantara IV (PalmCo) juga memaparkan komitmen mereka mengenai penerapan industri Zero Waste, di mana seluruh produk sampingan dari proses pengolahan dimanfaatkan kembali secara optimal. Limbah cair, yakni Palm Oil Mill Effluent (POME), misalnya, diolah menjadi energi biogas.

Melengkapi pemahaman dari hulu ke hilir, rombongan kunjungan juga meninjau fasilitas produksi PT Industri Nabati Lestari (INL) yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun. Kunjungan ini memberikan gambaran mengenai fase hilirisasi industri kelapa sawit, mulai dari pengolahan CPO hingga menjadi produk jadi bernilai tambah tinggi, khususnya minyak goreng (cooking oil) siap konsumsi.

PSPD UGM berkomitmen untuk menjembatani perspektif dari organisasi pekebun rakyat juga. Sebagai wadah yang telah menghimpun lebih dari 750 pekebun dengan lebih dari 1.200 Ha, KPUD Lestari memberikan pandangan kritis juga mengenai implementasi sawit berkelanjutan di Indonesia. Bagi KPUD Lestari, keberlanjutan merupakan pilar penting bagi pekebun. Pengurus koperasi menegaskan bahwa alih-alih berfokus pada insentif harga (premium price), hal yang paling dibutuhkan oleh petani adalah pendampingan berkelanjutan, alih-alih sekadar pelatihan insidental. Pendampingan yang konsisten dari para pemangku kepentingan dianggap lebih efektif dalam mendorong transformasi kelembagaan serta perubahan perilaku pekebun menuju praktik perkebunan yang baik. 

Rangkaian kunjungan lapangan di Tebingtinggi dan Simalungun ini berhasil memberikan pondasi empiris bagi peserta dalam menjembatani kebijakan dengan realitas di lapangan. Pembelajaran ini menegaskan kembali komitmen Indonesia dalam mengawal transformasi keberlanjutan sektor kelapa sawit, yang lantas perlu untuk berfokus pada kelestarian lingkungan, kesejahteraan pekebun rakyat, serta penguatan perekonomian nasional.