Dependensi Energi Uni Eropa-Rusia di Tengah Pusaran Konflik Rusia-Ukraina

Dependensi Energi Uni Eropa-Rusia di Tengah Pusaran Konflik Rusia-Ukraina

Penulis :

Lukas Andri Surya Singarimbun

Writer, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Editor:

Nabila Asysyfa Nur

Website Content Manager, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Illustrasi oleh:

Marsha

Marsha, Desainer Grafis, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina telah memasuki babak baru dalam beberapa pekan terakhir. Pengerahan pasukan militer telah dilakukan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin pada 24 Februari 2022 lalu ke daerah yang merupakan daerah kedaulatan Ukraina dengan tujuan untuk melakukan “demiliterisasi” dan “liberalisasi” terhadap sebaagian dari masyarakat Ukraina. Alih-alih mendapatkan dukungan dari negara-negara NATO (North Atlantic Treaty Organization), Presiden Ukraina, Volodymir Zelensky, beranggapan bahwa negara-negara NATO bersama dengan Amerika Serikat telah “mengabaikan” Ukraina dan memaksa masyarakat Ukraina untuk berjuang mempertahankan kedaulatan dan eksistensinya sendiri tanpa bantuan dari dunia internasional. Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai alasan negara-negara NATO dan Amerika Serikat  yang cenderung untuk melakukan retaliasi melalui sanksi ekonomi seperti melarang Rusia untuk akses terhadap SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) dan juga membekukan banyak  aset dari Bank Sentral Rusia daripada harus mengerahkan militer secara masif dan langsung untuk melawan Rusia.

Di samping isu kemanusiaan, geostrategi, dan keamanan yang menjadi perdebatan dalam konflik ini, aspek perdagangan energi terutama gas bumi antara Rusia dengan negara-negara di Uni Eropa juga tidak dapat dilepaskan dari pembahasan konflik Rusia dengan Ukraina mengingat negara-negara yang tergabung ke dalam NATO memiliki ketergantungan terhadap energi terutama gas bumi yang berasal dari Rusia.

Ketergantungan negara-negara Eropa, terutama yang tergabung dalam NATO dan Uni Eropa, terhadap pasokan gas dari Rusia cukup besar hingga lebih dari 1/3 dari total konsumsi secara regional berasal dari Rusia. Berdasarkan data mengenai ketergantungan sumber energi dari Rusia, Jerman yang merupakan salah satu negara dengan kekuatan utama di NATO memiliki ketergantungan setidaknya lebih dari 50% dari pasokan gasnya berasal dari Rusia (Wilkes et al., 2022). Selain Jerman, Prancis dan Italia juga bergantung terhadap suplai gas dari Rusia hingga masing-masing mengimpor 25% dan 49% dari total konsumsi gas nasionalnya. Lebih lanjut, negara-negara seperti Bulgaria, Republik Ceko, Estonia, Hungaria, Polandia dan Slovakia mendapatkan suplai gas antara 75% - 100% dari Rusia.

Keamanan energi terhadap pasokan gas bumi dari Rusia terutama kepada negara-negara yang tergabung ke dalam NATO menjadi bagian penting dalam pembahasan relasi keduanya. Tidak seperti sumber daya minyak bumi, biaya transportasi pengiriman gas dengan kapal tanker sangat mahal sehingga akan lebih efisien apabila dialirkan melalui saluran pipa. Oleh karena itu, perubahan harga jual hingga pemberhentian suplai gas bumi oleh pemasok utama, Rusia, akan menyulitkan  para konsumen seperti negara-negara di Eropa Barat untuk berpindah ke sumber daya energi yang lain. Hal ini menurut Cohen dan Reed akan memberikan tantangan tersendiri bagi Uni Eropa untuk memberikan sanksi yang dapat memberikan dampak yang masif terhadap Rusia (Cohen & Reed, 2022). Pasokan gas bumi yang masih terus mengalir ke negara-negara konsumen saat pasukan Rusia telah memasuki wilayah Ukraina mengurangi dampak dari retaliasi ekonomi yang dilakukan Amerika Serikat untuk memberhentikan Presiden Putin dari agresi terhadap Ukraina. Di sisi lain, negara-negara anggota NATO harus memastikan bahwa retaliasi yang dilakukan melalui pemberhentian suplai gas tidak memberikan dampak yang lebih buruk bagi masyarakat di negara-negara Uni Eropa sendiri.

Konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina juga membuktikan hal lain dalam hubungan internasional. Alih-alih memperkuat dan memperdalam hubungan kedua belah pihak,  sebagaimana argumentasi teori ketergantungan yang mengatakan bahwa ketergantungan antar pihak dapat mereduksi saling ketidakpercayaan, ketergantungan energi antara negara-negara Uni Eropa dengan Rusia tidak mengurangi ketidakpercayaan satu dengan yang lainnya, jika tidak mendukung peningkatan saling curiga. Selain memunculkan dilema keamanan di kawasan, menurut Krickovic peningkatan perdagangan gas antara Rusia dan negara-negara Uni Eropa berpotensi untuk digunakan sebagai senjata dalam melakukan retaliasi untuk mencapai kepentingan dari masing-masing pihak (Krickovic, 2015).  

Dalam konteks relasi keduanya, perdagangan energi menjadi daya tawar politik untuk meraih kepentingan yang ingin dicapai. Ketergantungan energi dari Uni Eropa ke Rusia merupakan salah satu aspek yang paling berpengaruh dalam menentukan kebijakan keamanan dan respon terhadap serangan yang dilakukan Rusia terhadap wilayah Ukraina. Di sisi lain, pendapatan Rusia juga bergantung pada pembelian energi dari negara-negara Eropa dimana lebih dari 70% ekspor gas Rusia dialirkan melalui pipa-pipa gas ke negara-negara Eropa. Sehingga, pada realitasnya relasi keduanya dalam perdagangan ini menjadi saling menguntungkan dari segi bisnis, namun dari segi politikketergantungan energi dari beberapa negara di NATO yang cukup besar dengan Rusia memberikan daya tawar tersendiri bagi Rusia dalam menjalankan politik luar negerinya.

Menurut Baran, ketergantungan terhadap suplai energi dari Rusia menyebabkan negara anggota NATO tidak memiliki politik luar negeri yang independen karena memberikan porsi yang besar terhadap kalkulasi ketergantungan energi terhadap Rusia (Baran, 2007). Dalam beberapa kesempatan, Moskow seringkali menggunakan daya tawar dalam aspek suplai energi ke negara-negara di Uni Eropa sebagai bagian dari taktik politik untuk mencapai kepentingannya terutama kepada negara-negara tetangganya. Apabila kepentingannya tidak tercapai, Rusia melakukan pengehentian suplai gas bumi dengan berbagai alasan teknis dan juga terkadang terkesan manipulatif seperti misalnya dilakukan terhadap negara-negara Balkan. Hal ini juga yang kemudian memberikan dasar terhadap kekhawatiran bagi negara-negara konsumen gas bumi Rusia terhadap jaminan dari suplai energi.

Sebagai respon dari serangan militer yang dilakukan Rusia ke Ukraina, Jerman menghentikan sementara proyek strategis pipa gas Nord Stream 2 yang diumumkan secara langsung oleh Perdana Menteri Jerman, Olaf Scholz (Eddy, 2022). Konstruksi pipa gas Nord Stream 2 disetujui oleh pemerintah Jerman pada 2018 dan diharapkaan untuk beroperasi sejak awal 2022 lalu. Bagi banyak pengamat, keberhasilan dari proyek Nord Stream 2 tidak hanya akan semakin meningkatkan ketergantungan negara-negara pada pasokan gas Rusia, tetapi juga  akan memberikan tantangan terutama terhadap pecahnya suara politik dari negara-negara Eropa terhadap tindakan agresi yang dilakukan oleh Rusia. Bagi Jerman, penghentian dari proyek ini dianggap sebagai salah satu tindakan yang cukup berani bagi sebuah negara yang memiliki ketergantungan terhadap suplai energi dari Rusia.

Namun, sebagian pengamat menganggap bahwa penghentian proyek Nord Stream 2 belum cukup untuk menghentikan Rusia dari serangan yang dilakukan ke Ukraina. Meski telah mengenakan sanksi ekonomi di berbagai aspek seperti akses terhadap fasilitas pembayaran global—SWIFT—dan juga bidang perdagangan, ketergantungan terhadap energi dari Rusia memaksa negara-negara dalam NATO dan Uni Eropa untuk tidak mengenakan sanksi terhadap Rusia pada sektor energi yang merupakan salah satu sektor yang akan semakin mengancam perekonomian Rusia. Pengetatan dalam sektor suplai energi akan sangat beresiko karena hal tersebut dapat membahayakan suplai dan keamanan energi negara Eropa. Oleh karena itu, dalam konteks konflik yang berkembang di Ukraina, bukan tidak mungkin Presiden Vladimir Putin menggunakan daya tawar dalam bidang perdagangan energi untuk mencapai kepentingannya di daratan Ukraina dan melawan sanksi oleh negara barat terhadap ekonomi Rusia, meskipun sampai sekarang strategi tersebut belum digunakan.  

Saat ini, sudah saatnya negara-negara yang tergabung di dalam NATO untuk secepatnya memberikan ruang terhadap sumber energi jenis lain atau suplai energi gas bumi dari negara lain untuk mengurangi dependensi terhadap suplai gas bumi dari Rusia  Hal tersebut diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi negara-negara NATO dalam menjalankan politik luar negerinya. Negara anggota European Union dan NATO dapat juga mempercepat pengembangan energi dari sumber daya energi terbarukan yang saat ini telah berlangsung namun belum mampu untuk menyuplai kebutuhan energi secara optimal.

Oleh karena itu, penting bagi negara-negara Eropa yang tergabung di dalam NATO untuk melakukan diversifikasi terhadap sumber dari energi yang dibutuhkan untuk mengurangi ketergantungannya terhadap Rusia. Menurut Krickovic, diversifikasi asal dari sumber daya memberikan keleluasaan bagi negara-negara yang tergabung baik di dalam NATO dan Uni Eropa untuk mengimplementasikan politik luar negerinya dan memberikan ancaman atau sanksi berupa pemutusan suplai energi yang dapat menekan Rusia mungkin dalam perkembangan krisis ke depannya terutama mengenai konflik di Ukraina (Krickovic, 2015). Hal ini meskipun dalam implementasinya seperti yang disampaikan oleh Jens Stoltenberg, Sekretaris Jendral NATO, akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan mengharuskan negara-negara yang bergantung dengan gas dari Rusia untuk mengeluarkan biaya yang tidak sedikit juga namun harus dilakukan (Maclellan & Rodionov, 2022).

 Referensi

Baran, Z. (2007). EU Energy Security: Time to End Russian Leverage. The Washington Quarterly, 30, 131–144. https://doi.org/10.1162/wash.2007.30.4.131

Cohen, P., & Reed, S. (2022, February 25). Why the Toughest Sanctions on Russia Are the Hardest for Europe to Wield. The New York Times. https://www.nytimes.com/2022/02/25/business/economy/russia-europe-sanctions-gas-oil.html

Eddy, M. (2022, February 22). Germany Responds to Russia, Halting Nord Stream 2 Pipeline. The New York Times. https://www.nytimes.com/2022/02/22/business/nord-stream-russia-putin-germany.html

Krickovic, A. (2015). When Interdependence Produces Conflict: EU–Russia Energy Relations as a Security Dilemma. Contemporary Security Policy, 36(1), 3–26. https://doi.org/10.1080/13523260.2015.1012350

Maclellan, K., & Rodionov, M. (2022, January 30). NATO concerned over Europe’s energy security amid standoff with Russia. Reuters. https://www.reuters.com/world/nato-calls-europe-diversify-energy-supply-amid-standoff-with-russia-2022-01-30/

Wilkes, W., Dezem, V., & Delfs, A. (2022, March 5). Germany Faces Reckoning for Relying on Russia’s Cheap Energy. Bloomberg.Com. https://www.bloomberg.com/news/articles/2022-03-05/germany-faces-reckoning-for-relying-on-putin-for-cheap-energy

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*