Ancaman Cuaca Ekstrem, Sektor Perdagangan Komoditas Pangan Indonesia Waspada Gagal Panen dan Lonjakan Harga

Ancaman Cuaca Ekstrem, Sektor Perdagangan Komoditas Pangan Indonesia Waspada Gagal Panen dan Lonjakan Harga

Penulis :

Christina Vania Winona

Writer, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Editor:

Nabila Asysyfa Nur

Website Content Manager, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Illustrasi oleh:

Narinda Marsha Paramastuti

Desainer Grafis, Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada.

Cuaca yang tidak menentu berimbas buruk bagi dinamika pertanian di Indonesia. Sejumlah petani konvensional––yang mengandalkan input bahan kimia terutama pestisida dan pupuk kimia––di beberapa wilayah Indonesia, salah satunya di Provinsi Gorontalo, harus meratapi nasib kerugian gagal panen karena tidak bisa menentukan serta memprediksi kapan waktu kemarau dan waktu hujan (2/2/22). Selain petani di Provinsi Gorontalo, beberapa petani di Kabupaten Pangandaran juga mengeluhkan hasil panen yang kurang baik. Salah seorang petani asal Cileuncang, Suryaman (45), mengeluhkan kualitas panen padi  dengan bulir padi yang sangat kecil dan tidak normal sebagai akibat dari sawah miliknya yang sering terendam banjir (6/2/22). Hujan yang ekstrim juga dikeluhkan oleh petani asal Cijulang, Wawan Kurniawan (38), yang mendapatkan hasil panen kurang bagus (6/2/22).

Dengan keadaan tidak menentu, petani-petani tersebut harus menunda waktu penanaman serta mengalami gagal panen. Saat ini, para petani konvensional dihadapkan pada keadaan minimnya informasi prakiraan cuaca dan gagap teknologi yang kemudian berkontribusi pada kerugian yang mereka alami. Petani konvensional terbiasa mengandalkan ilmu perbintangan untuk menentukan aktivitas bercocok tanamnya, namun dengan adanya perubahan iklim, sulit bagi mereka untuk dapat memprediksi cuaca. Ketidakmampuan untuk menentukan cuaca tersebut lantas berakibat pada kematian tanaman jenis holtikultura dan jagung serta kemungkinan serangan hama. Selain hortikultura dan jagung, sektor pangan utama seperti beras juga terimbas negatif.

Cuaca ekstrem dan kegagalan panen yang dialami para petani tersebut berdampak buruk bagi harga pangan yang kian melambung tinggi. Menurut Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta, perubahan iklim dapat mengganggu ketersediaan pangan dan mengancam ketahanan pangan. Berkurangnya tingkat produksi dapat menyebabkan kenaikan harga pangan yang mana berimbas pada akses, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan. Salah satu kenaikan komoditas pangan ditemukan di Makassar khususnya untuk komoditas cabai rawit dan bawang merah. Pada komoditas cabai rawit, harga jual komoditas tersebut mencapai Rp70.000,00 per kilogram, dengan kenaikan sebanyak Rp20.000,00 sejak pekan sebelumnya (9/2/22). Adapun komoditas bawang merah dijual pada harga Rp40.000,00 per kilogram, dengan kenaikan sebanyak Rp5.000,00 per kilogram pada pekan sebelumnya (9/2/22). Selain itu, pada Januari 2022 lalu, harga beras pada skala nasional mengalami kenaikan. Rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan mencapai Rp9.824,00 per kg, dengan kenaikan sebesar 1,57 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan beras kualitas medium di penggilingan mencapai Rp9.381,00 per kg dengan kenaikan sebesar 2,77 persen. Rendahnya panen di bulan November sampai Desember tahun 2021 serta fenomena hidrometeorologi di awal 2022 menjadi penyebab kenaikan harga beras tersebut.

Melihat lonjakan tersebut, Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polri memperkirakan bahwa harga sembako––termasuk cabai rawit merah dan bawang merah––akan mengalami kenaikan menjelang bulan Ramadhan hingga perayaan Idul Fitri. Selain disebabkan oleh lonjakan permintaan pada komoditas impor, faktor cuaca buruk juga berkontribusi terhadap penurunan penawaran. Untuk menangani hal ini, dikutip dari Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia Tunov Mondro, pemerintah harus melakukan langkah konkret dan intervensi untuk dapat mengatasi kenaikan harga komoditas pangan yang sedang meroket.

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*