Tantangan Pembangunan dalam Liberalisasi Industri Pariwisata ASEAN

Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis untuk meningkatkan devisa negara. Menuju integrasi ekonomi wilayah Asia Tenggara seperti yang tercantum dalam program Asean Economic Community (AEC) 2015, sektor pariwisata mulai digarap secara serius oleh negara-negara ASEAN. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menyepakai bluprint pengembangan dunia pariwisata ASEAN dalam ASEAN Tourism Strategic Plan (ATSP).

ATSP pada dasarnya dibentuk untuk meningkatkan daya saing ASEAN dalam pasar pariwisata global. Salah satunya dengan cara menetapkan standar-standar tertentu bagi penyedia layanan jasa pariwisata. Harapannya, ASEAN dapat menarik wisatawan asing asing Suatu usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang patut untuk diapresiasi.

Diskusi pekanan perdagangan internasional edisi 3 (14 Maret) yang diadakan oleh WTMC dan CWTS UGM mengangkat tema terkait pariwisata ASEAN. Kali ini, isu yang diangkat adalah tentang multiplier effect yang dapat terwujud dalam industri pariwisata. Pemantik diskusi, Septian Nur Yekti, berpendapat bahwa pertumbuhan di sektor pariwisata dapat memberikan efek turunan seperti pengentasan kemiskinan, peningkatan pendapat, penciptaan lapangan kerja dan lain sebagainya.

Diskusi pun berjalan dengan cukup hangat. Beberapa peserta mengamini potensi wisata dalam mewujudkan pembangunan. Namun tak sedikit pula yang sangsi terhadap tesis tersebut. Bagi beberapa peserta, industri pariwisata, dengan melihat contoh kasus di Indonesia, pada saat ini cenderung hanya dinikmati oleh kaum-kaum elit dan belum menyentuh masyarakat luas secara umum.

Di situ lah tantangan yang akan dihadapi oleh negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia ke depan. Dalam kerang AEC 2015, masyarakat Indonesia tidak hanya bersaing dengan elit nasional. Namun juga dari elit-elit yang berasal dari negara ASEAN yang lain. Ketika pasar tunggal terbentuk, secara otomatis investasi dari luar negeri yang masuk ke Indonesia akan semakin mudah. Hal ini menuntut kebijakan dari pemerintah, agar selalu melibatkan masyarakat dalam setiap bentuk investasi yang dilakukan. Agar keuntungan yang dihasilkan dari pengelolaan industri pariwisata dapat juga dinikmati oleh masyarakat secara lebih luas.

Keterangan foto: Pemateri, Septian Nur Yekti (kiri) sedang memberikan materi diskusi WTMC PSPD UGM
Disadur oleh: Prista Yurinda
Foto: Dimas

Catatan: WTMC (World Trade Model Community) dan CwtsPspd UGM tiap Jumat seminggu sekali mengadakan diskusi yang terbuka untuk umum. Siapa saja dapat menjadi pembicara dalam diskusi tersebut, terutama yang mengangkat tema perdagangan internasional. Silakan menghubungi WTMC untuk informasi lebih detil. Pemikiran dan/atau pemaparan pembicara diskusi hanya mewakili pendapat individu pembicara dan tidak serta merta mewakili sikap/opini CwtsPspd UGM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>