Seri Diskusi GVC: Seri V, 22 Juni 2012

 Strategi Pemerintah Kamboja dalam Produksi Beras
oleh Arif Rahman Hakim

Asia Tenggara terkenal dengan produksi berasnya yang melimpah. Jika dikercutkan lagi, terdapat beberapa neara yang menajdi penghasil beras terbesar, yakni Thailand dan Vietnam. Sementara itu, meskipun beberapa negara juga penghasil beras, tidak sedikit dari pula yang tetap mengandalkan impor, seperti Indonesia, Malaysia dan Filipina. Beberapa alasan negara tersebut melakukan impor antara lain karena pesatnya pertumbuhan penduduk dan perubahan iklim yang membuat produksi beras tidak menentu. Sementara itu di Kamboja, produksi beras sangatlah besar dan kebutuhan negara lain akan komodiats ini menjadi peluang tersendiri bagi pasar beras Kamboja. Meskipun demikian, peluang ini belum bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Kamboja karena terhambat oleh faktor harga dan mutu yang bersaing dengan Thailand dan Vietnam. Penyebab harga beras di Kamboja lebih mahal adalah proses produksinya yang masih tradisional (biaya penggilingan). Karena biaya penggilingan di Kamboja lebih mahal, maka petani mengekspor beras dalam bentuk yang masih mentah ke Thailand dan Vietnam. Ketika berada di negara-negara tersebut, gabah yang ada kemudian digiling dan hasil akhirnya akan disebut sebagai beras Thailand atau Vietnam. Inilah yang membuat beras asal Kamboja menjadi kurang diminati, karena jika mengandalkan keseluruhan proses dari dalam negeri, mutu yang dihasilkan tidak sebanding dengan mutu olahan Thailand dan Vietnam. Ditambah lagi, selera konsumen meliputi jenis varietas, aroma, harga dan tingkat kerusakan beras.
Upaya pemerintah rectangular strategy.

Analisa  Global  Value Chain  pada Komoditas Perikanan di Senegal
oleh Nursam

Senegal merupakan penghasil ikan yang cukup besar bagi pasar di Uni Eropa, bersama negara Afrika lainnya, WTO bahkan merancang kerangka kerjasama yang khusus membahas masalah perdagangan ikan dengan Uni Eropa. Bagi Senegal, komoditas perikanan memberikan kontribusi sekitar 2.3 persen dari total GDP negara dan 17 persen dari penduduknya senegal merupakan nelayan. 1/3 dari dari total ekpor Senegal merupakan berasal dari sektor perikanan. Dalam upaya peningkatan ilai tambah, pean pemerintah Senegal dianggap penting sebagai aktor utamanya. Pemerintah berperan untuk mengontrol dan mengkoordinasikan alur-alur perdagangan ikan, mulai dari markets, modular, relational, captive, and hierarchy. Aktor-aktor tersebut memiliki fungsi masing-masing untuk menyalurkan komoditas baik langsung kepada konsumen maupun kepada perusahaan-perusahaan untuk diolah lebih lanjut. Dalam skema market misalnya, hubungan yang terjadi bersifat dua arah, dari supplier ke konsumen. Skema modular memiliki alur yang berbeda, dimulai dari component and material suppliers, diperantarai oleh turn-key suppliers untuk diberikan pada lead firm. Skema relational mengacu pada interaksi pada component and material suppliers, relational suppliers dan lead firm. Kemudian, pada skema captive, hubungan yang terjadi diinisiasi oleh lead firm langsung kepada captive suppliers. Hubungan yang terakhir adalah hierarchy, dimana pertambahan nilai sepenuhnya dikelola oleh integrated firm.

Nilai Tambah Komoditas Lidah Buaya di Pontianak
oleh Posmanto Marbun

Pontianak merupakan daerah penghasil lidah buaya yang cukup besar. Bududaya lidah buaya sudah marak dilakukan oleh masyarakat dan inovasi produknya sudah mencapai tahapan yang tinggi, seperti penggunaan lidah buaya sebagai makanan, (pulp) minuman, teh dan produk konsetntrat (kosmetik, farmasi dan industria kimia). Produk-produk lidah buaya ini juga sukses menembus pasaran domestik dan internasional, terutama ke Malaysia, Hongkong dan Singapura. Ditambah lagi kerjasama antar aktor baik swasta dan pemerintah sangat bak dalam mengembangkan produk ini. Namun, dalam skala yang lebih kecil, yaitu petani lidah buaya sendiri justru mengalami beberapa permasalahan, seperti pengusaha olahan lidah buaya memiliki lahan pertanian lidah buaya sendiri dan tidak tergantung lagi kepada petani; Para petani memiliki trauma pengaruh kondisi  pasar sebelumnya yang mana ditahun 1990-2000an, jumlah permintaan masyarakat terhadap produk Alovera sangat sedikit; Negara tujuan ekspor lidah buaya seperti Malaysia, tidak lagi tergantung dan mengimpor lidah buaya dari Kalimantan Barat karena warga negara Malaysia suadah dapat menanam  bahkan dapat memenuhi bibit lidah buaya sendiri setelah diajarkan oleh pengolah Aloevera dari Pontianak; Adanya standar mutu yang disyaratkan oleh beberapa negara seperti Jepang dan Amerika Serikat; Belum adanya industri hilir dalam skala besar yang mengelola lidah buaya secara terpadu; Dikenakanya bea masuk sebesar 14% ke negara-negara tujuan ekspor seperti Jepang, Brunai Darussalam, dan Malaysia (Kuching) yang dapat  memberatkan para petani; Belum adanya teknologi packaging yang baik untuk mengekspor bahan baku (pelepah lidah buaya), sehingga bahan baku (pelepah lidah buaya) Kalimantan Barat sulit bersaing di pasar internasional. Hal diatas tentu ironis mengingat proses pengolahan lidah buaya di Pontianak yang secara keseluruhan bisa diolah oleh siapapun ternyata menyulitkan petani dengan modal kecil kalah bersaing. Lidah buaya sendiri pada dasarnya bukanlah tanaman yang sulit untuk dibudidayakan, sehingga disini perlu usaha yang lebih giat lagi dari pemerintah untuk membantu petani lidah buaya di Pontianak, terutama dalam mendorong penambahan nilai pada produknya agar bisa bersanding dalam kompetisi pasar.  Beberapa saran yang dikemukakan antara lain bekerjasama dengan kalangan akademisi, dan memperlebar jangkauan pasar ke negara-negara Asia lainnya.

Resistensi Buah Apel Malang terhadap Invasi Apel Impor (Diversifikasi Produk Hulu dan Hilir)
oleh Hafidz Ageng

Implikasi dari keanggotaan Indonesia dalam WTO yang paling dirasakan dampaknya bagi masyarakat adalah perdagangan bebas. Dalam kasus ini, bebasnya produk buah impor yang masuk ke Indonesia telah menjadi momok tersendiri bagi petani. Mereka merasa dirugikan karena dalam skema MFN dan national treatment, pemerintah harus mengurangi dan menghilangkan subsidi pada alat penunjang pertania, pestisida, pupuk, dan sebagainya. Selain itu, perdagangan bebas mendorong tiap negara untuk impor produk yang pada dasarnya mampu untuk dihasilkan sendiri. Secara spesifik, petani apel Malang, kini harus bersaing dengan apel-apel impor yang datang dari Cina, Jepang dan Amerika. Buah apel impor tersebut muncul dengan berbagai keunggulan dari segi ukuran, rasa dan tentunya harga. Terlebih, buah impor secara fisik lebih menarik dan kualitasnya lebih baik. Disini pemateri melihat perbedaan harga antara apel Malang dan apel impor bisa terjadi lebih karena adanya permainan harga oleh tengkulak dan importir. Untuk mencegah matinya pertumbuhan apel-apel lokal tersebut, pemerintah Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberlakukan aturan pengetatan buah dan sayur import dalam Peraturan Gubernur Nomor 78 Tahun 2012, serta Pertanian Nomor 89 Tahun 2012 dan Nomor 90 Tahun 2011 yang menjadikan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya pintu masuk produk impor hortikultura. Selain itu, usaha untuk meningkatkan nilai dari apel Malang sendiri telah dilakukan oleh para produsen. Diversifikasi produk hulu dan hilir pun mulai digiatkan, seperti membangun kawasan agrowisata petik apel, membangun penginapan/ hotel di tengah perkebunan apel, dan pengembangan teknologi agronomi dan agribisnis. Di sector hilir, apel diolah menjadi beragam produk seperti cuka apel, teh apel, keripik, kue, dan jenang apel. Kombinasi peran antara pemerintah sebagai pengontrol atas asimetris kekuasaan antar pelaku dan swasta terlihat cukup dinamis dalam upaya upgrading apel Malang dan meskipun posisi komoditas ini masih terdesak di pasaran, namun produk olahannya mulai mendapat perhatian dari masyarakat luas.

Keterangan foto: Pembicara diskuis (ki-ka); Hafidz Ageng, Posmanto Marbun, Nursam dan Arif Rahman Hakim

Teks: Neily Cholida
Foto: Dimas Wijanarko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>