Seri Diskusi GVC: Seri IV, 15 Juni 2012

Komoditas Kakao Sulawesi Selatan dan Upaya Pemerintah Untuk Upgrading
oleh Syaharuddin Idris

Produktifitas kakao di Indonesia bisa dikatakan belum mencapai titik kestabilannya. Beberapa daerah penghasil kakao ternyata tidak mampu menghasilkan kakao yang berkualitas baik. Faktor geografis ternyata turut mempengaruhi kualitas kakao, iklim tropis Indonesia tidak mampu menghasilkan kualitas yang sama baiknya dengan negara di Afrika. Rendahnya kualitas kakao menyebabkan harga biji dan produk kakao Indonesia di pasar internasional dikenai diskon US$200/ton atau 10%-15% dari harga pasar. Dari situasi ini, pemateri menganggapnya sebagai peluang karena itu artinya pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Lokasi produksi kakao terbanyak berada di pulau Sulawesi (70%), sayangnya di daerah ini belum ada perusahaan yang mau menjadi leadfirm kakao yang berani berinvestasi besar. Dari sisi petani, pertambahan nilai terbesar saat ini masih terbatas pada kakao olahan, tapi masih sangat kecil dalam hal jumlah usahanya. Pelaku industri yang terlibat masih sangat homogen, yaitu petani, penampung, dan eksportir komoditas. Ditambah lagi, karena pedangan (trader) asing lebih senang mengekspor dalam bentuk biji kakao non olahan, maka pengolahan kakao pun masih bersifat tradisional, karena memang tidak ada permintaan untuk mengolah lebih jauh.  Pengolahan kakao belum dikembangkan pesat dalam bentuk industri hilir di Sulawesi Selatan, hanya terdapat dua perusahaan yang mengelola industri kakao di Sulawesi Selatan. Karena itu, pemateri mengajukan beberapa solusi untuk mendorong ekspor kakao dengan harga yang pantas dan memaksimalkan pengolahan di dalam negeri. Untuk itu peran Lead Firms menjadi penting dalam menarik nilai tambah yang lebih besar untuk pelaku usaha di Indonesia, dan mempererat jaringan agar bisa mengangkat sebuah brand dari produk kakao Indonesia.

Cokelat Roso dalam Mata Rantai Industri Kakao Indonesia
oleh Hangga Fathana

Indonesia adalah produsen biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Melalui komoditas ini, devisa yang dihasilkan menempati posisi ketiga terbesar di Indonesia. Produktifitas kakao nasional non-farm Indonesia tidak lebih dari 1000 kg/ha dan terus menurun. Ditambah lagi, Indonesia cenderung mengekspor dalam bentuk olahan setengah jadi dan mengimpor produk jadi. Karena itulah meskipun potensi kakao di Indonesia cukup besar, namun kesempatan untuk bisa bersaing dengan negara lain seperti di Afrika masih sangat kecil, disamping persoalan kualitas kakao Indonesia yang ternyata tidak sebagus kakao asal Afrika. Berangkat dari persoalan di atas, peneliti mencoba mengangkat satu sisi dari perjalanan industri kakao nasional yang sedang diberdayakan melalui brand cokelat lokal pula.
Cokelat Roso menjadi salah satu pemantik dalam mendukung penambahan nilai kakao dalam negeri. Perusahaan ini memiliki visi menjadikan Jogja salah satu kota dengan cinderamata cokelat olahan. Produk cokelat yang dikembangkan memiliki 5 produk dengan total 21 varian rasa. Untuk membuat produk dengan varian tersebut, kuota produksi Cokelat Roso mencapai 80 kg setiap harinya dan omset yang dihasilkan mencapai Rp 750 juta pada tahun 2011. Usaha untuk memberdayakan kakao lokal dengan media seperti ini tentu memiliki peluang dan tantangan. Peluangnya antara lain; ketersediaan bahan baku yang melimpah dari dalam negeri, pasar konsumen dan ekspor kakao olahan Indonesia yang mengalami pertumbuhan, dan adanya kebijakan MP3EI yang bisa mendukung peningkatan industri pengolahan kakao. Sementara itu, tantangan yang dihadapi antara lain; lokalisasi produksi yang ditempuh oleh cokelat branded ke pasar dalam dan luar negeri, dukungan industri hilir kakao yang belum tepat sasaran, serta keterbatasan teknologi untuk mendukung inovasi dan kecenderungan perilaku ekspor Indonesia dalam bentuk biji mengakibatkan industri domestik mengalami kekurangan pasokan bahan baku olahan. Sederet permasalah diatas membuat produsen Cokelat Roso merasa perlu untuk menolong produsen kakao dalam negeri. Usaha value upgrading tersebut kemudian dilakukan dengan beberapa hal, yakni melakukan functional upgrading; berinovasi dengan desain & proses produksi: blending (jejamuan, butong, bener, cukro, kacang), molding chocolate; pengemasan: desain kemasan yang mengangkat kearifan lokal dan identitas pariwisata Yogyakarta; branding: membentuk consumer awareness, positive association, good perceived quality & customer loyalty; marketing: gerai utama, distribusi konsinyasi, jaringan pemasaran regional (dalam negeri).

Upaya Peningkatan Daya Saing Melalui Upgrading Produk Kelapa Indonesia
oleh Tanti Nurgiyanti

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Asian and Pasific Coconut Community, Indonesia memiliki perkebunan kelapa terluas di dunia (2003). Urutan keduanya ditempati oleh negara Filipina yang memiliki luas areal mencapai 3.214.000 ha. Namun demikian, dari segi produksi ternyata Indonesia hanya menduduki posisi kedua setelah Filipina. Ragam produk dan devisa yang dihasilkan Indonesia juga di bawah India dan Sri Lanka. Pengolahan kelapa di Indonesia yang dipakai dalam skala ekspor adalah CCO (Crude Coconut Oil). Aktifitas ekspor CCO Indonesia menjadi terhambat karena tidak mampu bersaing dengan monopoli industri hilir minyak kelapa yang saat ini hanya dikuasai beberapa perusahaan rakasasa transnasional seperti: Unilever,  Henkel, Procter and Gamble, dan Colgate Palmolive.Sementara itu, Filipina bisa memproduksi lebih baik dari sekedar CCO. Filipina kini tercatat sebagai negara produsen kelapa yang tercatat sebagai eksportir produk oleokimia dari kelapa (APCC).

Upaya Peningkatan Daya Saing Kopi: Studi Kasus Starbucks Corporation
oleh Shylvia Windari

Starbucks merupakan sebuah perusahaan yang terkenal dengan gerai kopinya hampir di seluruh dunia. Awal mula berdirinya Starbucks adalah tahun 1971 di Seattle berupa toko kopi oleh Jerry Baldwin, Zev Siegl dan Gordon Bowker. Kemudian perusahaan ini berkembang tahun 1987 dengan kedai kopi ekspreso pertama di Amerika oleh Howard Schultz. Ide untuk mengembangkan Starbucks menjadi franchise mulai direalisasikan sejak saat itu sampai pada tahun 1992, Starbucks menjadi perusahaan publik yang di perdagangkan dengan dengan 165 outlet di Amerika. Sedangkan outlet pertama di luar Amerika berada di Jepang yang dibuka tahun 1996. Di Indonesia sendiri pada tanggal 17 mei 2002 Starbucks pertama di Jakarta, Indonesia. Starbucks memanfaatkan impor kopi dari beberapa negara berkembang di Afrika dan Asia untuk mendapatkan kopi yang berkualitas dan mencerminkan karakteristik daerah masing-masing. Di Indonesia khususnya, Starbucks menawarkan jenis kopi dari wilayah Jawa dan Sumatra (toraja, mandailing). Upgrading value dari kopi setiap daerah ini diupayakan Starbucks untuk menciptakan harga yang cukup tinggi namun tetap diminati sebagai bagian dari produk dalam negeri. Indonesia sendiri, terlepas dari produk kopi unggulannya, merupakan eksportir ketiga terbesar untuk perusahaan Starbucks. Starbucks memiliki strategi agar bisnisnya juga bisa memberi dampak yang bagus untuk petani kopi, dengan standar yang sudah dirancang sedemikian rupa. Starbucks membayar di atas harga pasar kepada petani untuk memperoleh kualitas biji kopi premium, serta proses pemanggangan biji kopi dengan waktu dan suhu yang di tentukan memberikan keunikan sendiri, misalnya seperti yang terlihat di biji kopi jenis arabika.

Keterangan foto: Pembicara diskusi (ki-ka); Shylvia Windari, Tanti Nurgiyanti, Hangga Fathana, dan Syaharuddin Idris

Teks: Neily Cholida
Foto: Dimas Wijanarko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>