Seri Diskusi GVC: Seri III, 8 Juni 2012

Mata Rantai Pertambahan Nilai pada Industri Manufaktur Indonesia: Studi Kasus PT. Maspion
oleh Patria Nurhari

PT. MASPION merupakan sebuah perusahaan manufaktur lokal terbesar di Indonesia. Usaha yang dirintis sejak tahun 1962 ini pada awalnya hanya memproduksi lampu teplok dengan jumlah terbatas setiap harinya. Seiring berjalannya waktu, MASPION menerapkan banyak transfer teknologi dan mengaplikasikannya untuk memproduksi barang-barang kebutuhan masyarakat dengan sumber daya lokal. PT. MASPION bisa jadi satu-satunya perintis perusahaan manufaktur di Indonesia yang menolak outsourcing tenaga kerja dari negara lain (khususnya China yang terang-terangan menawarkan kerjasama untuk memangkas biaya tenaga kerja). Proses penambahan nilai dari setiap produk MASPION didasarkan pada enam hal; Produk, Layanan, Proses, Pasar, Logistik, Organisasional) (Inovasi (Neely, 2001; Johannessen, 2002; Avermete, 2003; dalam Indarti, 2007). Hal tersebut direalisasikan pada tahun 1980-an ketika MASPION mulai melakukan inovasi pada produk kitchenware dengan menambah brand Maxim dan Panda. Selain itu, produk MASPION juga merambah sektor elektronik dan bahan bangunan, seperti pipa PVC. Untuk memperkuat brand image, MASPION memanfaatkan sertifikasi ISO sebagai bukti bahwa MASPION memiliki standar tinggi untuk berkompetisi dengan produk lain. Komitmen semacam ini layak untuk ditiru oleh segenap perusahaan lokal di Indonesia, agar di masa mendatang, konsumen tidak lagi mengutamakan produk dari luar yang notabene perusahaan Indonesia juga telah mampu memproduksinya. Strategi penguatan merek lokal mutlak dibutuhkan untuk menumbuhkan embrio baru bagi produsen manufaktur Indonesia.

Perkembangan Industri Rotan di Indonesia: Analisis Global Value Chain
oleh Dhani Akbar

Industri rotan di Indonesia berpusat di Cirebon, Jawa Barat. Produksi rotan di Indonesia telah dimulai pada tahun 1980-an dan sampai pada tahun 2004 telah terdapat peningkatan yang cukup tinggi baik di bidang pengolahan maupun permintaan pasar. Meskipun demikian, industri rotan tetap memiliki permasalahan yang cukup pelik, terutama dari sisi bahan baku, teknologi dan pemasaran. Produk rotan biasanya diolah menjadi kursi, tikar dan pajangan. Desain yag digunakan untuk produk tersebut sangatlah standar dan membuat banyak negara lain untuk menirunya dengan bahan selain rotan. Problem sumber daya manusia yang belum memiliki skill kompeten juga menjadi masalah lain di industri rotan Indonesia, kurangnya data dan informasi menurunkan potensi rotan Indonesia untuk berjaya di pasar internasional. Bahkan, untuk mencapai titik permintaan yang stabil pun masih sulit. Persaingan dengan negara lain mengenai produk rotan substitusi ditindaklanjuti pemerintah dengan mengeluarkan regulasi berupa Larangan Ekspor Bahan Baku Rotan. Hal ini dilakukan karena banyak rotan yang diekspor ke luar negeri dan membuat produsen lokal kehilangan resource untuk bisa berkembang. Ditambah lagi rotan yang dilarang ekspor seperti rotan mentah, rotan asalan, rotan W/S (Washed and Sulphurized), dan rotan setengah jadi adalah komoditas yang perlu dilestarikan.

Sentra Industri Kerajinan Kulit Manding
oleh Stanislaus Risadi Apresian

Pusat kerajinan kulit di Yogyakarta yang cukup dikenal masyarakat berada di daerah Manding. Sentra kerajinan kulit Manding telah memulai aktivitas usahanya pada tahun 1957-an. Titik penjualan atau distribusi produk pada masa itu dipusatkan di daerah Beringharjo sebagai pusat kunjungan turis. Aneka produk yang dihasilkan dari kulit pada masa itu dan saat ini pada dasarnya tidak banyak berubah, semua didasarkan pada nilai fungsionalnya. Karena itu, ketika produk dari Jepang mulai membanjiri pasar Indonesia tahun 1960-an, kerajinan kulit menjadi sangat mudah tersaingi. Terlebih ketika barang-barang dari Jepang tersebut memproduksi produk yang sama dari bahan bukan kulit, sehingga harganya pun lebih murah. Inilah yang akhirnya menimbulkan ketidakpastian dalam bisnis kerajinan kulit di Manding. Permasalahan terus dialami oleh para perajin, bahkan ketika perizinan ekspor kulit telah disahkan tahun 1990-an, perajin lokal cukup kesulitan untuk mendapat bahan baku. Untuk menghindari iklim bisnis yang tidak menentu, para pedagang di Manding mencoba membuka showroom sendiri tahun 2000-an guna menciptakan sebuah daerah yang kelak dikenal sebagai pusat kerajinan kulit. Langkah upgrading tersebut pada dasarnya bisa dibagi menjadi dua, yaitu upgrading statis dan upgrading dinamis. Upgrading statis dilakukan dengan membuat website untuk memudahkan pembeli dari luar daerah/negeri melakukan pemesanan tanpa harus datang ke Manding. Sedangkan upgrading dinamis meliputi product upgrading (memproduksi produk sandang), functional upgrading (showroom), chain upgrading (homestay, wisata budaya, kursus kerajinan kulit).

Keterangan foto: Pembicara diskusi (ki-ka), Stanislaus Risadi Apresian, Dhani Akbar, dan Patria Nurhari

Teks: Neily Cholida
Foto: Dimas Wijanarko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>