Seri Diskusi GVC: Seri II, 1 Juni 2012

Internasionalisasi Pariwisata Budaya Indonesia

Penerapan nilai tambah pada produk dalam negeri juga merambah sektor budaya. Kebudayaan Indonesia yang diangkat dalam studi kasus kali ini antara lain Reog Ponorogo, varian Batik Indonesia dan Kain Ikat. Pemateri pertama mengangkat isu internasionalisasi pariwisata budaya Indonesia, khususnya Reog Ponorogo. Kesenian Reog yang umum dikenal masyarakat adalah tarian dan aksesorisnya. Untuk memperluas pengenalan Reog Ponorogo di level internasional, para perajin telah mulai menambahkan nilai jual pada kesenian ini. Tahun, 2010, salah satu sanggar kesenian Reog Ponorogo menggelar pertunjukkan di Washington D.C, Amerika Serikat dan dihadiri tidak hanya oleh warga negara Indonesia tetapi juga warga lokal. Pertunjukkan itu tidak hanya menjadi media untuk mengenalkan tarian dari Indonesia, tetapi juga memperkenalkan fitur-fitur apa saja yang digunakan dalam tarian itu, seperti dadak merak, topeng para penari dan sebagainya. Hal ini kemudian menjadi salah satu potensi usaha yang cukup menjanjikan bagi para produsen peralatan Reog. Nilai tambah yang mereka gunakan berasal dari  labelling tarian Reog Ponorogo dan disematkan pada produk-produk yang digunakan para penari Reog untuk dipasarkan secara terpisah. Salah satu produk yang memiliki nilai jual tinggi adalah dadak merak, ikon utama dari tarian reog ini memakai bulu merak asli sehingga memiliki sisi keindahan yang lebih menonjol. Rantai-rantai seperti inilah yang kemudian berperan dalam menambah nilai jual sebuah budaya dan jika para aktor di setiap rantai ini berperan efektif untuk melakukan upgrading dan product space, maka di tingkat global, Reog Ponorogo akan menjadi produk eksklusif dari Indonesia.

Analisis GVC terhadap Internasionalisasi Batik Indonesia

Batik saat ini telah menjadi bagian dari hampir seluruh masyarakat Indonesia. Sebutan batik yang awam terjadi adalah ketika seseorang mengenakan pakaian bermotif tertentu. Padahal, kini batik tidak hanya ditimpakan di atas kain, tetapi juga di banyak media, seperti kayu, besi, gerabah dan lainnya. Karena itu, penambahan nilai pada batik sebenarnya sangat mudah terlihat di berbagai kerajinan Indonesia. Namun, batik sendiri memiliki banyak perbedaan, motif batik melambangkan daerah pembuatannya. Dalam makalahnya, penulis mengangkat tiga jenis batik yang berasal dari Yogyakarta/Solo, Pekalongan dan Lasem.

Peran pemerinta daerah terbukti sangat efektof dalam membantu pemasaran dan promosi dari batik-batik di daerah Yogyakarta, Solo dan Pekalongan. Aspek penambahan nilai pun terlihat dari menjamurnya industri-indusri batik, museum batik dan kerajinan lain dengan menjadikan motif batik sebagai pelengkapnya. Hal tersebut berbeda dengan Batik Lasem, dimana upgrading produk ini masih sangat kecil, padahal motif batik Lasem bisa dikatakan cukup menarik karena merupakan campuran dari budaya Jawa dan Tionghoa.

Upaya Pertambahan Nilai Kain Tradisional Indonesia menjadi Konsep Fashion Masa Kini: Studi Kasus IKAT Indonesia

Ikat merupakan sebuah jenis kain yang tengah mendapat sorotan di kalangan fashion domestik dan internasional. Kain Ikat sendiri tidak secara khusus dimiliki oleh Indonesia, karena banyak negara Asia Tenggara lain yang juga memiliki kain Ikat dengan motif yang berbeda. Studi kasus yang diangkat pemateri ketiga ini mengedepankan sisi fashion pada kain Ikat Indonesia sebagai unsur added value. Brand terkemuka  yang menggunakan kain Ikat untuk produknya seringkali mengadakan pameran dan fashion show di berbagai negara dengan membawa merk Ikat Indonesia. Kain Ikat yang dulunya hanya dipakai sebagai pakaian sehari-hari masyarakat kini “naik kelas” dan memiliki sisi eksklusif dengan desain yang mewah. Ditambah lagi, peluang pasar bagi tekstil Indonesia cukup besar karena negara ini menduduki peringkat 10 besar  di antara eksportir garmen di pasar global. Dari 3 kategori perusahaan di sektor pakaian jadi (full package; cut, make &Trim (CMT); subcontract, kebanyakan tipe perusahaan di Indonesia adalah subcontract. Dengan kata lain, selama ini, industri pakaian jadi Indonesia mengindikasikan posisi Indonesia sebagai penjual jasa jahit. Dari sisi Global Value Chain, pendekatan ekonomi kreatif mutlak dibutuhkan untuk menciptakan inovasi dan kreatifitas agar mengeluarkan keunggulan kompetitif suatu bangsa. Peta added Value Chain dari kain Ikat Indonesia: design, input, endorsement.  Bentuk kampanye dari Ikat Indonesia yang sangat kuat dalam mengedepankan sisi klaim bahwa Ikat yang mereka pakai adalah dari Indonesia, sehingga secara tidak langsung, jika berhasil, persepsi dunia mengenai Ikat akan mengarah pada budaya Indonesia.

Keterangan foto: Pembicara diskusi (ki-ka), Aprilia Restuning Tunggla, Roni Ahmad, dan Ayu Saptaningtyas.

Teks: Neily Cholida
Foto: Dimas Wijanarko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>