Seri Diskusi GVC: Seri I, 25 Mei 2012

Pada diskusi mingguan kali ini, PSPD bekerjasama dengan Program Pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional UGM untuk mengadakan seri diskusi publik dengan tema Global Value Chain. Seri diskusi ini akan berjalan setiap Jumat sampai tanggal 22 Juni dan membahas beberapa studi kasus. Pada seri pertama, para presenter mengangkat tema industri otomotif di tiga negara, yakni Thailand, Malaysia dan Indonesia. Mengingat hasil final dari makalah para pemateri ini masih dalam proses pengerjaan, maka publikasi yang akan kami berikan hanya berupa abstrak.

1.    Mata Rantai Produksi Otomotif Thailand (Enggar Furi Herdianto)
Thailand merupakan salah satu produsen otomotif terbesar di Asia Tenggara. Industri otomotif nasional negara ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang dikenal dengan nama Local Content Requirement (LCR). Dengan adanya LCR, industry otomotif Thailand bisa menyediakan produk lokal kepada para investor, sehingga, proses produksi yang terjadi secara langsung akan mempengaruhi sektor lain di Industri Thailand. Dalam rangka mendukung aktivitas ekspor dan memperkuat kapasitas industry nasional dari investor asing, pemerintah Thailand memiliki tiga strategi utama yaitu, menciptakan lingkungan yang kondusif, mendirikan badan riset untuk pengembangan industry otomotif, memberikan pelatihan untuk upgrading capability manufakturnya.

2.    Pengembangan Industri Otomotif Malaysia Dalam Perspektif Global Value Chain: Studi Kasus Terhadap Proton dan Potensinya Memasuki Pasar Otomotif Internasional (A.A. Istri Diah Tricesaria)
Dalam usaha membangun industri mobil nasionalnya, Malaysia mengalami beberapa penyesuaian kebijakan yang berproses. Pada tahun 1985, Malaysia menginisiasi pengembangan mobil nasional yang dikenal dengan nama Proton, dimana sebesar 70% modal utamanya berasal dari Jepang. Selain itu, kerjasama juga berbentuk pemakaian hak cipta dari produk Mitsubishi untuk membuat Proton. Bayangan transfer teknologi dari Mitsubishi yang pernah mendominasi komponen mobil nasional Malaysia membuat pemerintah negara berusaha mengurangi ketergantungan tersebut dengan cara menghentikan kerjasama dengan Mitsubishi dan bisa dengan sepenuhnya memproduksi mobil nasional sendiri.
Meskipun demikian, produksi mobil nasional tetap memakai teknologi turunan Mitsubishi dengan berbekal komponen dan sumber daya lokal. Hasilnya, Malaysia kemudian mencoba berinovasi dengan mengembangkan produk Proton Waja yang diklaim sebagai produk asli tanpa menggunakan bantuan dari Mitsubishi.  Pada akhirnya, di tahun 2004, Proton sepenuhnya menjadi milik Malaysia.

3.    Pengembangan Industri Otomotif Indonesia dalam Perspektif GVC (Jamal)
Beralih ke dalam negeri, saat ini Indonesia menjadi pasar otomotif terbesar ke-11 untuk tingkat dunia dan ke-2 untuk tingkat ASEAN. Pasar dan industri  mobil di Indonesia dikuasai oleh lima perusahaan Jepang, yaitu Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Honda, dan Suzuki. Sehingga, total kontribusi kelimanya tercatat mencapai 95 persen.

Dari beberapa data diatas, sangat jelas terlihat persaingan produk otomotif asing yang sangat besar di wilayah Indonesia. Hal ini tentu sangat disayangkan mengingat dalam kompetisi tersebut posisi Indonesia tidak berada di level yang sama, melainkan menjadi objek pasar yang mengandalkan tingginya tingkat konsumsi. Padahal, jika pemerintah Indonesia bisa serius menjalankan proyek industri otomotif nasional, bisa jadi negara ini memiliki mobil nasional yang dipakai oleh rakyatnya sendiri.

Beberapa paradoks diatas kemudian dianalisa oleh presenter, Jamal, dengan menggarisbawahi beberapa sudut pandang. Perkembangan industri otomotif di Indonesia didorong oleh dua faktor. Pertama, faktor pemerintah melalui kebijakan kandungan lokal. Kedua, faktor asing melalui prinsipal asing yang membuat jejaring industrinya di negara tujuan. Perkembangan oleh faktor kedua lebih mendominasi industri otomotif di Indonesia.

Industri otomotif nasional merupakan industri yang berbasis pada impor. Secara umum, aktivitas alam industri otomotif nasional adalah industri perakitan. Kurangnya kemampuan industri otomotif nasional untuk membuat produk yang sesuai dengan standar internasional dan kebutuhan masyarakat global sekarang ini membuat perlunya mengimpor produk. Pemenuhan teknologi yang masih kecl dan kekurangmampuan sumber daya manusia Indonesia menjadi faktor yang mengakibatkan ketergantungan terhadap produk impor.  Banyaknya komponen-komponen yang belum mampu dibuat oleh industri nasional Indonesia membuat nilai impor selalu lebih besar daripada nilai ekspor, karena upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan komponen tersebut dilakukan dengan mengimpor. Akibatnya, pada tahun 1997 produsen mobil lokal berguguran, transfer teknologi tidak berhasil di sini, banyaknya merek yang ada di sini menyebabkan economic scale lemah (pemain berinteraksi dengan banyaknya produsen), principal asing lebih suka mitra lokal berfungsi sebagai distributor, bukan manufacturer.

Terdapat beberapa alasan mengapa proyek mobil nasional Indonesia gagal. Pertama, respon pasar. Pada awal diinisiasi, konsumen lokal amat sedikit, namun sebenarnya bertumbuh dengan cepat. dimana sebenanrnya lama-lama bertumbuh amat cepat. Kedua, strategi yang tidak efektif. Pada dasarnya, cara tepat untuk memperkenalkan produk mobnas pada masyarakat yakni tidak langsung dijadikan konsumsi publik, namun bisa untuk keperluan mobil dinas, pertanian, sama seperti negara lain seperti Jerman yang awalnya untuk penggunaan militer.

Keterangan foto: Pembicara diskusi (ki-ka), Enggar Furi Herdianto, Anak Agung Istri Diah Tricesaria, dan Jamal.

Teks: Neily Cholida
Foto: Dimas Wijanarko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>