Industri Rotan Indonesia: Dilema Antara Pengembangan Industri Hulu Dan Hilir

Rotan merupakan salah satu kekayaan hutan Indonesia sebagai negara tropis yang memberi sumbangan besar terhadap perekonomian Indonesia. Saat ini ketersediaan rotan sangat banyak di hutan Indonesia  terutama di wilayah Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Indonesia merupakan penghasil 85% rotan mentah dunia yaitu dengan nilai sekitar 699.000ton/tahun. Akan tetapi sayangnya kondisi ini tidak serta merta menempatkan Indonesia sebagai leading country dalam perdagangan rotan internasional. Saat ini Indonesia menempati posisi ketiga (7,68%) dalam perdagangan rotan di pasar global setelah China (20,72%) dan Italia (17,71%). Hal ini tentunya menjadi isu yang penting untuk dianalisis lebih mendalam dengan melihat faktor-faktor yang menghambat perdagangan rotan Indonesia.

Adapun klasifikasi industri rotan di Indonesia dapat dibedakan menjadi:

  • Pertama, industri pengolahan bahan rotan dan rotan setengah jadi yang sering disebut sebagai industri antara. Industri antara adalah industri pengolahan rotan yang menghasilkan bahan baku roran berupa rotan asalan rotan poles, hati rotan, kulit rotan, webbing, split, dan sejenisnya, dan biasanya pengerjaan produk ini dikerjakan melalui proses semi mekanis.
  • Kedua, industri furnitur rotan. Dalam industri ini menghasilkan perabotan rumah tangga seperti sofa, meja, kursi, lemari, dan lainya.
  • Ketiga, industri barang-barang kerajinan rotan. Industri ini menghasilkan produk barang kerajinan rotan berdasarkan desain lokal, dan biasanya buatan tangan.

Salah satu faktor yang dianggap sebagai penghambat pertumbuhan industri rotan adalah semakin maraknya alih fungsi lahan. Rotan yang pada dasarnya merupakan hasil hutan secara alami akan semakin terus berkurang dan tergerus seiring dengan pembukaan hutan, baik untuk pertanian maupun perumahan. Penting juga menggarisbawahi bahwa posisi rotan ternyata dianggap tidak cukup signifikan jika dibandingkan dengan komoditas lainnya. Hal ini sangat jelas terlihat dari kebijakan alih fungsi hutan sebagai habitat rotan sebagai perkebunan yang dianggap lebih mendatangkan keuntungan seperti karet dan kelapa sawit. Tabel di bawah ini memaparkan posisi industri rotan dalam industri nasional Indonesia.

Industri Kelapa Sawit 18,97%
Industri Karet 11,9%
Pengolahan kayu 3,66%
Pengolahan Pulp dan Kertas 4,72%
Pengolahan Rotan 0,17%
Pengolahan Minyat atsiri 0,2%
Pengolahan Hasil Hutan Ikutan 0,04%

Faktor yang juga kemudian menjadi deteminan dalam pengambilan kebijakan perdagangan rotan adalah tidak adanya sinergitas antara industri hulu (industri bahan baku) dan hilir (industri barang jadi). Secara garis besar hal ini terlihat jelas dari kebijakan pemerintah terkait industri rotan yang dijelaskan sebagai berikut:

  • Sebelum tahun 1979 industri hulu berkembang pesat.
  • Tahun 1979 – Tahun 1991 (seiring REPELITA II) industri hulu melemah sementara industri hilir bekembang pesat.
  • Tahun 1992 – 1997 kebijakan dalam rangka peningkatan orintasi ekspor berbanding terbalik dengan proteksi industri domestik.
  • Tahun 1998 (Krisis Ekonomi) – 2003 pemulihan pasca krisis serta ditandatanganinya LOI IMF yang mengharuskan pemerintah melakukan deregulasi. Implikasinya, di satu sisi petani rotan memperoleh keuntungan sementara industri pengolahan rotan sebagian besar gulung tikar.
  • Tahun 2004, pengembangan industri berkeunggulan kompetitif. Bahan baku tidak terserap karena pemerintah menutup keran ekspor bahan baku dalam rangka revitalisasi industri hilir.
  • Tahun 2005, pemerintah membuka keran ekspor bahan baku rotan yang bertolak belakang dengan arah kebijakan nasional.
  • Tahun 2009, pemerintah melakukan pengetatan kuota ekspor dan jenis rotan yang boleh diekspor.
  • Tahun 2011, pemanfaatan bahan baku secara berkesinambungan untuk menjaga kelestarian rotan & hilirisasi industri. Akan tetapi di sisi lain industri hilir domestik belum siap dengan arus liberalisasi dan industrialisasi.

Dari timeline di atas dapat kita perhatikan bahwa pemerintah selalu merasa ragu dalam menetapkan kebijakan terkait industri rotan. Hal ini terutama diakibatkan kebijakan perdagangan dan industri rotan selalu dipengaruhi oleh tarik menarik kepentingan antara pendukung kelompok industri hulu dengan industri hilir rotan. Tarik-menarik kepentingan ini membuat pemerintah mengalami dilema antara akan mempertahankan dan memperjuangkan industri hulu atau fokus pada pengembangan industri hilir. Dilema tarik-menarik ini menyebabkan pemerintah hanya mengeluarkan kebijakan yang hanya sekedar membuka dan menutup keran ekspor rotan mentah.

Kepentingan yang selalu berseberangan antara kelompok industri hulu dengan kelompok hilir rotan tersebut membuat setiap kebijakan yang diambil tidak pernah disepakati oleh kedua kelompok tersebut, sehingga pada akhirnya menyebabkan industri produk rotan Indonesia belum mampu meraih posisi yang signifikan di pasar global. Di satu industri hulu menginginkan pembukaan ekspor bahan mentah yang sebesar-besarnya, yang tentunya akan melipatgandakan keuntungan mereka. Sementara di sisi lain, industri hilir lebih menyarankan pemerintah untuk menutup keran ekspor bahan baku dengan melihat fakta bahwa banyak industri hilir yang akhirnya gulung tikar, baik furniture maupun kerajinan rotan. Hal ini diakibatkan kesulitan mereka dalam mengakses bahan baku berkualitas sebagai implikasi atas ekspor bahan baku yang berlebihan. Selain dalam hal kualitas, mereka juga pada kenyatannya tidak mampu bersaing dalam harga dengan produk rotan luar negeri. Sebagian besar pabrik industri hilir rotan dalam negeri terletak di daerah yang jauh dari sumber bahan mentah rotan yang secara otomatis akan memperbesar biaya produksi dan transportasi.

Di samping beberapa faktor di atas, belum mampunya Indonesia menjadi pemain utama dalam perdagagan rotan di pasar global juga disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: lemahnya daya saing dalam kualitas dan desain produk; distribusi bahan baku domestik yang belum efisien; produktifitas SDM yang masih kurang; dan kurangnya dukungan teknis dari pemerintah (keringanan pajak atau pemeberian insentif). Maka dari itu untuk menjawab segala permasalahan tersebut, dengan menggunakan analisis GVC (Global Value Chain), Indonesia dapat melakukan upgrading dengan cara perbaikan kualitas dan harga produk rotan. Langkah ini tentunya harus didukung dengan kebijakan pemerintah seperti menutup keran ekspor rotan mentah dan mengurangi biaya HTC. Perbaikan juga dilakukan dalam hal desain dan kualitas, bahkan membuat branding terhadap produk rotan indonesia. Dengan melakukan upgrading dalam rangka peningkatan nilai tambah produk maka diharapkan produk rotan Indonesia dapat menjadi yang dominator dalam pasar global.

Pemakalah: Meliana Lumbantoruan
Disadur oleh: Tika Marzaman
Foto: Dimas

Catatan: CwtsPspd UGM tiap Senin seminggu sekali mengadakan diskusi yang terbuka untuk umum. Siapa saja dapat menjadi pembicara dalam diskusi tersebut, terutama yang mengangkat tema perdagangan internasional. Silakan menghubungi Vinie untuk informasi lebih detil. Pemikiran dan/atau pemaparan pembicara diskusi hanya mewakili pendapat individu pembicara dan tidak serta merta mewakili sikap/opini CwtsPspd UGM.

8 Comments

  1. Alvian Rahardjo

    Memang dilematis, tetapi tentu kita tidak boleh berdiam diri dengan permasalahan tersebut. Menurut saya sebaiknya pemerintah fokus mensupport industri rotan disektor hilir, sehingga industri ini bisa bersaing dipasar internasional. Support pemerintah bisa dilakukan dengan pemberian pelatihan untuk pengrajin rotan, akses pemasaran kepasar internasional dan melakukan study banding kenegara2 leading country untuk industri rotan seperti China dan Italia. Jika hal tersebut dilakukan dengan baik, maka bukan tidak mungkin industri rotan disektor hilir kita akan menjadi yang terbaik didunia. Kalau sudah begini, rotan tidak perlu diekspor lagi, karena permintaan dari industri hilirnya akan semakin bertambah tentu dengan nilai yang meningkat.

    1. Muhammad

      Peran Indonesia sbg pemain utama bahan baku rotan dunia telah hilang sejak 1988 seiring tutup-buka nya kran ekspor rotan batangan setengah jadi, sebaliknya pertumbuhan industri mebel/kerajinan rotan tidak tumbuh sebagaimana harapan, terlebih lagi beralihnya ke penggunaan rotan imitasi/sintetis membuat pemakaian rotan alam semakin kecil.
      Kini posisi peran Indonesia telah digantikan oleh beberapa negara tetangga yg juga memiliki rotan, mereka telah memasok kebutuhan rotan dunia.
      Seiring dgn pengalihan pemakaian rotan sintetis/imitasi maka produksi rotan di daerah hulu menurun karena faktor pasar.
      Pemerintah sebaiknya semakin mendalami permasalahan rotan shg komoditi ini tidak mati suri.

  2. Suleman

    Indonesia penghasil rotan terbesar dunia, 85% berada di hutan Indonesia, tumbuh subur beranak-pinak, setiap tahun bertambah panjang batang rotan nya tanpa dimanfaatkan secara optimal baik di dalam negeri maupun oleh dunia.
    Rotan tidak akan berkurang karena pengalihan sebagian fungsi hutan, bandingkan dgn semakin banyaknya rotan di hutan tanpa dimanfaatkan.

  3. Muhammad

    Sebelum 1990-an Indonesia berperan besar dlm perdagangan rotan dunia (baik perabot/kerajinan rotan maupun rotan bulat olahan),seiring dgn kebijakan tutup/buka ekspor rotan bulat maka terjadilah kepincangan antara industri hulu dan hilir rotan.
    Indonesia sbg penghasil terbesar rotan (85% tumbuh di hutan kita), peningkatan/pertumbuhan jumlah rotan dihutan kita yg luar biasa, tidak dibarengi dgn pemanfaatannya,baik utk komsumsi lokal maupun global.
    Kebijakan larangan ekspor rotan bulat olahan telah membangkitkan industri pengolahan di beberapa negara tetangga yg juga memiliki rotan,mereka telah menggantikan posisi Indonesia sebagai pemasok kebutuhan dunia.
    Pula rotan alam sudah mulai terabaikan dgn pengalihan penggunaan ke rotan imitasi/sintetis yg terbuat dari plastik dan aluminium, apalah artinya “sebagai produsen rotan terbesar” padahal nilai dari komoditi ini sudah hampir hilang?

  4. berau

    tarik menarik antara kepentingan industri hulu dan hilir serta ketidakjelasan arah kebijakan dan keberpihakan pemerintah sebagai regulator menjadi akar permasalahan industri rotan selama ini. semoga pemerintah yg baru mampu dan berani membuat kebijakan yg tepat untuk kepentingan masyarakat luas. jangan lupa bahwa fakta sampai dengan saat ini, masih ada ketimpangan kesejahteraan antara masyarakat di jawa dan luar jawa. menarik industri hilir ke hulu mungkin dpt menjadi salah satu solusi atas problem industri rotan sampai saat ini tentu saja dengan dukungan pemerintah. memang sangat tidak mudah menawarkan pengrajin dari cirebon (sentra industri rotan) untuk “transmigrasi” ke luar jawa, tetapi mungkin dengan sentuhan (program) pemerintah dapat melunakkan mereka hingga mau ber “transmigrasi”
    Ayoooo,,, disini banyak bahan baku sdh tidak pernah dipungut puluhan tahun hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>