Press Release Seminar “Proyeksi Pengembangan Kerjasama Ekonomi RI-Rusia dan RI-Iran”

FISIPOL UGM – (26/4/2018) PSPD (Pusat Studi Perdagangan Dunia) bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Perekonomian dan IIS (Institute of International Studies) UGM menyelenggarakan seminar sosialisasi hasil-hasil kerjasama ekonomi RI–Rusia dan RI–Iran. Selain dihadiri oleh kalangan akademisi, kegiatan ini juga dihadiri oleh praktisi pemerintahan serta mengundang tiga narasumber meliputi Prof. Dr. Mohtar Mas’oed (Guru Besar Hubungan Internasional UGM), Bapak Bahris Paseng, M.A. (Vice Chairman of Indonesia-Iran Business Council) serta Bapak Didit A. Ratam (Ketua KADIN Indonesia Komite Rusia). Dalam kegiatan seminar ini, Bapak Bobby C. Siagian (Plt. Asisten Kerjasama Ekonomi Eropa, Afrika dan Timur Tengah) menjadi moderator pembahasan.

Dalam sambutannya, Bapak Bobby menyampaikan bahwa sosialisasi ini diselenggarakan sebagai medium bagi khalayak untuk mengetahui info terbaru mengenai kerjasama antara negara-negara tersebut. Selain itu, juga sebagai upaya untuk menjaring masukan, khususnya dari kalangan akademisi dalam merumuskan upaya ke depan kerjasama antar negara-negara terebut yang saat ini sedang mengalami peningkatan signifikan di tengah peta politik dan ekonomi dunia yang terus bergeser.

Mengaca pada sejarah, menurutnya Rusia-RI telah memiliki hubungan diplomatik panjang sejak 60 tahun lalu dan hal ini menjadi sebuah potensi pasar yang menarik, begitu pun Rusia yang dalam memandang Indonesia.

Perkembangan Kerjasama RI-Iran

Paparan pertama disampaikan ialah mengenai peluang-peluang dan tantangan kerjasama RI-Iran. Secara umum, hubungan perdagangan yang sedang berlangsung antara RI-Rusia mengalami peningkatan. Dari segi politik, kondisi ini juga didorong oleh pemberlakuan sanksi ekonomi Rusia yang menjadi momentum emas bagi Indonesia dalam meraih pasar di Rusia.

Meskipun neraca perdagangan RI-Rusia angkanya belum terlalu menonjol, yakni sejumlah 7.4juta USD di tahun 2017, namun nilai investasi terlihat cukup tinggi pada proyek-proyek antar keduanya, misalnya proyek kereta api yang di Kalimantan Tengah senilai 953T/4M USD dan proyek smelter pembentuk nikel. Ke depannya, kerjasama ekonomi dalam perdagangan dan investasi dapat diperkuat secara teknis melalui jalur resmi maupun nonresmi. Jalur resmi ditempuh melalui kedutaan RI di Rusia ITPC, Kadin pusat  dan jalur non-resmi melalui kegiatan pameran dan business forum seperti SPIEF, Eastern Economic Forum, serta kunjungan delegasi.

Sayangnya, sejauh ini produk unggulan Indonesia yang diekspor ke  Rusia antara lain produk tradisional (pertanian), produk Industri peralatan, produk furnitur dan kerajinan, pangan, dan produk fashion. Sementara Rusia memiliki produk ekspor unggulan ke Indonesia berupa produk berteknologi tinggi, seperti alutsista, radar, pesawat, helikopter, satelit, pembangkit listrik, high performance computers, recognition system, advanced software. Di sisi lain, Rusia juga memiliki produk tradisional dalam sektor pertambangan, khususnya migas, peternakan dan pertanian.

Dalam hal investasi, belakangan mulai banyak investor Rusia yang bergerak di sektor pariwisata. Setidaknya terdapat 44 perusahaan PMA dalam sektor pariwisata telah menggalakkan investasi di beberapa kota di Indonesia seperti, Bali, Lombok dan Jakarta. Selain itu, proyek infrastruktur, migas dan perikanan juga menjadi sasaran investor Rusia. Jalur yang ditempuh Rusia untuk menjalin perdagangan ke Indonesia antara lain melalui  Trade Representative Office (kepanjangtanganan dari kedutaan bidang ekonomi), Russia Export Center, Chamber of Commerce of the Russian Federation, Regional Chamber of Commerce, dan melalui event exhibition juga kunjungan-kunjungan delegasi.

Di balik potensi-potensi tersebut, terdapat tantangan yang dihadapi baik oleh Indonesia maupun Rusia dalam menjalin kerjasama, yaitu dalam aspek budaya, bagaimana memecah stigma yang lama terbangun akibat pengalaman politik sebelumnya, serta tantangan infrastruktur, informasi pasar, maupun aturan yang berlaku. Di bidang pariwisata misalnya, kendala logistik seperti maskapai penerbangan yang belum memadai menjadi penghambat kelancaran bisnis.

Perkembangan kerjasama Iran-Indonesia

Paparan kedua disampaikan oleh Bapak Bahris Paseng, M.A. (Vice Chairman of Indonesia-Iran Business Council). Menurutnya, bagi Indonesia, potensi yang dapat diambil dari Iran salah satunya adalah kawasan strategis negara tersebut yang menjadikannya sebagai kekuatan ekonomi yang disegani di Timur Tengah setelah Arab Saudi. Di sisi lain, penduduk Iran yang meningkat hingga 180 juta penduduk (juga mengalami peningkatan kualitas SDM yang cukup tinggi. Dengan kondisi yang demikian, tidak heran jika meskipun Iran terkena sanksi ekonomi, kondisi perekonomian dari segi investasi dan perdagangan tetap berlangsung baik. Dua aturan sanksi yang berlaku mengenai larangan menggunakan dolar Amerika dan larangan  berinteraksi dengan perusahaan AS dapat disiasati dengan baik oleh para pebisnis.

Kerjasama Indonesia– Iran yang saat ini sedang dikembangkan salah satunya dalam hal pengembangan teknologi nano. Indonesia berupaya mendorong Iran agar tidak hanya menjual komoditas berbasis nano tersebut ke Indonesia, namun juga investasi ke Indonesia dengan iming-iming bisnis yang lebih berkelanjutan ke depannya.

Dua hal yang menghambat kerjasama antara RI – Iran adalah tarif kedua belah pihak masih relatif tinggi. Jika Indonesia tidak segera menyelesaikan kendala PTA (preferental tariff agrreement) ini, bisa jadi negara-negara ASEAN yang lain akan memotong tarif yang renda terlebih dahulu dan mengurangi peluang Indonesia. Upaya PTA sedang berlangsung antara kedua negara ini dan telah memasuki rundingan ke-4. Kedua, masalah banking payment, RI – Iran belum bisa menjalankan perdagangan yang bersifat langsung. Selama ini, selalu ada pihak ketiga (misalnya harus melalui Swiss untuk membuka akun transaksi perbankan). Dua hambatan ini kalau tidak terselesaikan akan menyebabkan perdagangan yang mahal.

Memperjelas Identitas dalam Kerjasama Bisnis

Prof. Dr. M. Mohtar Mas’oed menyoroti dua poin dari pemaparan sebelumnya. Pertama, volume perdagangan yang masih relatif kecil, kedua komponen komoditi yang diperdagangkan di mana Indonesia mengekspor produk pertanian yang memiliki nilai tambah rendah dan mengimpor komoditas yang bernilai tambah tinggi dari Rusia.

Menurutnya, hal-hal teknis memang perlu diupayakan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut, namun aspek nonteknis juga perlu diperhatikan, misalnya dalam aspek politik dan buaya, bahwa terdapat mentalitas perang dingin yang harus di selesaikan. Dalam hal ini identitas dalam relasi sosial perlu dibangun dan diperjelas karena bagaimanapun identitas sangat mempengaruhi terbangunnya kepercayaan dalam kerjasama ekonomi.

Identitas sendiri merupakan dimensi yang dinamis dalam politik internasional,  dan mempengaruhi prinsip polugri (politik luar negeri) yang berbeda-beda. Prof Mohtar memberikan contoh ketika Indonesia baru saja merdeka identitas yang dibangun adalah negara yang mempertahankan kemerdekaan. Identitas ini berubah di akhir 50—an oleh Bung Karno yang menciptakan identitas mendobrak kolonialisme (new emerging). Lalu identitas berikutnya yang terbangun ketika era orde baru adalah negara swasembada beras. Di era reformasi identitas bergeser menjadi negara dengan populasi muslim terbanyak, hingga bergeser lagi menjadi negara yang terbuka secara kerjasama melalui polugri, zero enemy a thousand friends. Lalu, apa identitas yang dibangun sekarang? Prof Mohtar menekankan bahwa “bagaimanapun, perdagangan harus mempertimbangkan aspek kultur dan politik. Jika identitasnya jelas, kepentingannya jelas, maka mampu mendapat dukungan yang jelas pula.”

Sementara persoalan lain adalah bagaimana perdagangan  dari segi Indonesia harus mampu naik kelas ke industrialisasi. Hal ini bisa dimulai dengan mengembangkan SDM nya termasuk mempromosikan bahwa fakultas pertanian bukan pembelajaran teknis mengenai tanam-menanam namun terkait dengan pengembangan agribisnis. Melalui SDM yang mampu mengembangkan teknologi, maka hilirisasi di sektor industri dapat ditingkatkan sehingga menciptakan nilai tambah komoditas ekspor. “Karena selama ini yang kita lihat statistik perdagangan Indonesia ke seluruh negara hanya terlihat tinggi di produk ekspor bahan mentah dan setengah jadi.” Pungkas Prof Mohtar.

 

Penulis : Dewi Setyaningsih